Resensi Buku Samaran Karya Dadang Ari Multono

Judul: Samaran⁣
Penulis: Dadang Ari Murtono
Penerbit: Mojok
Jumlah halaman: +200 halaman⁣
ISBN: 978-602-1318-60-7⁣
⁣Rating buku: 3🌟

“Salah satu wabah yang paling cepat menular adalah kecemasan dan ketakutan.”⁣

Yati Gendut mulai mencium bau kutukan di beranda rumah. Ia menjelaskannya kepada Marjiin, suaminya. Baunya mengandung sedikit amis ikan mati yang sudah berumur tiga hari, karat besi dan aroma cacing gelang yang kepanasan. Porsi terbanyak adalah aroma kenangan dicampur mawar. Marjiin tak peduli. Ia memilih tidur lagi. Yati Gendut sampai harus menyeretnya turun dari atas ranjang agar mencium sendiri bau kutukan itu. “Aku belum pakai celana!” teriak Marjiin.⁣

Mereka tak pernah menduga kalau bau kutukan itu akan membentangkan seluruh kisah tersembunyi di Samaran. Aroma kenangan dicampur mawar itulah yang juga akan menentukan nasib seluruh penghuni Samaran.⁣

Setelah membaca deskripsi buku ini apa yang kamu pikirkan? Kira-kira, apa yang sebenarnya terjadi pada Yati Gendut? Jangan-jangan Yati gendut hanya berhalusinasi? Memangnya ada manusia yang bisa mencium bau kutukan?

Pertama kali melihat kover dan membaca deskripsi buku ini yang ada dalam pikiranku adalah jangan-jangan ceritanya tentang dua orang yang tertukar wujud, yang cewek jadi cowok dan cowok jadi cewek. Dan, setelah membaca buku ini, dugaanku ternyata payah. Ternyata, Samaran adalah nama nama sebuah kampung terpencil, seolah berada di luar planet.⁣

Di buku ini kamu akan diajak berkenalan dengan beberapa tokoh yang absurd habis. Berikut beberapa tokoh yang ada dalam buku ini.⁣

Marjiin, Marjiin ya bukan marjan atau marjin kertas, haha, maaf-maaf, kayaknya aku sedikit terkontaminasi kekonyolan yang terjadi di Samaran. Marjiin ini adalah seorang suami yang pemalas. Dia hanya akan pergi ke sawah jika musim tanam dan panen. Kerjaannya kalau nggak tidur yaa nongkrong di rumah tetangganya. Orang seperti Marjiin ini kayaknya dengan sangat mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.⁣

Yati Gendut, sebenarnya dulu Yati nggak gendut. Gara-gara dia gendut, Marjiin menambahkan kata gendut di belakang namanya. Ya, suka-suka merekalah, ya. 😂 Yati Gendut menurutku tokoh yang paling abrurd. Yati Gendut beranggapan bahwa dengan menghirup asap dari bakaran sampah berat badannya akan berubah seringan kapas dan ia bisa terbang ke langit. 😑 Kegelisaan Marjiin bermula saat Yati Gendut ngotot bahwa ia mencium bau kutukan.⁣

“Ya. Aku bisa mencium bau napasku sendiri. Dan itu sama sekali tidak aneh. Kau tahu apa yang aneh? Yang aneh adalah bahwa seseorang bisa mencium bau kutukan.” Marjiin-halaman 5.⁣


Abah Gamah adalah orang yang dianggap sesepuh/ suci di Samaran. Abah Gamah adalah seorang laki-laki yang berumur sekitar 90 tahun. Kerjaannya beberapa tahun belakangan ini hanyalah duduk di teras rumah. Orang-orang di Samaran kerap kali datang padanya untuk menguras isi hati.⁣

“Aku mencium bau kematian,” kata Aba Gamah setelah menarik napas berat. Aba Gamah- halaman 14.


Lalu, masih ada tokoh-tokoh lainnya yang meramaikan Samaran. Seperti kepala kampung, Suratman yang menaruh hati pada Biyung Mat Ali, Mat Ali, dan beberapa tokoh lainnya.

“Aku tidak cukup tolol untuk mengerti bahwa kau sebenarnya tak keberatan aku tolong, bahkan sesungguhnya, kau mengharapkan hal itu.” Suratman-halaman 31.

Sebenarnya kutukan seperti apa yang akan menimpah Samaran?

Ternyata buku ini lebih menceritakan kehidupan penghuni Samaran yang masing-masing ternyata mempunyai rahasia. Konflik dalam buku ini menurutku cukup pelik ditambah alurnya yang lambat plus seperti kutu, lompat sana sini. Meskipun demikian, layaknya benang merah, semua konflik akhirnya saling terhubung. Memangnya konfiknya tentang apa? Ya, kayaknya kamu harus baca sendiri supaya bisa paham konflik apa yang ada dalam buku ini.⁣

“TAK DIRAGUKAN lagi,” ujar Marjiin sore itu kepada Yati Gendut,” Orang-orang yang suka berkerumun adalah orang-irang tolol!” Marjiin-halaman 39.

Aku cukup kaget saat mendapati buku ini ternyata hanya mempunyai dua bagian. Dan, bagian pertama 3x lipat tebalnya daripada bagian kedua.⁣

Saat membaca buku ini, aku seolah diajak melihat kembali realita yang ada di sekitar kita. Cinta terkadang membuat seseorang tampak konyol dan lupa diri.⁣

Apakah buku ini menghibur? Ya, lumayan, di beberapa bagian aku dibuat ketawa dan geleng-geleng kepala mendapati kekonyolan yang ada di Samaran. Ada pula bagian yang membuatku sedikit bosan. Meskipun demikian, aku sungguh dibuat kaget dengan plot twist yang ada. Oh, iya, aku suka dengan gaya bahasa buku ini. Aku dibuat merasa seolah Samaran benar-benar nyata. Mungkin karena karakter-karakter yang ada dalam buku ini memang terasa realistis. ⁣

Bicara soal kekurangan, font buku ini agak kecil dan spasinya juga rapat. Lalu tokoh dalam buku ini berjibun, dan sayangnya banyak hal-hal yang mengantung begitu saja. Endingnya pun menurutku terlalu buru-buru sehingga tidak terlalu meninggalkan kesan apa-apa. Sebenarnya aku masih dirundung rasa penasaran dengan apa yang akan terjadi pada tokoh-tokoh dalam buku ini, hehe. Rasanya nggak rela selesai begitu saja.⁣

Kalau dipikir-pikir, menilik dari judul dan kover bukunya, cerita dalam buku ini benar-benar sukses ditulis dengan samar-samar dan menumbuhkan rasa penasaran yang tak berujung.⁣

Iklan

Resensi Buku Tentang Singgah Karya Laily Adha Intan Putri

Judul: Tentang Singgah
Penulis: Laily Adha Intan Putri
Penerbit: CV. laditri Karya
Jumlah halaman: 176 halaman
ISBN: 978-602-52886-0-9
Periode baca: 1 Desember
Rating: 3 🌟

Jangan membaca novel ini jika kamu tidak ingin kecewa dalam pelayaran mimpi, tersesat dalam pendakian jati diri, dan enggan sabar menantikan pagi. Juga jangan dibaca jika kamu tidak ingin tahu bagaimana terbangun setelah tenggelam, berlari dengan kaki yang patah, dan menikmati malam dengan kesendirian. Terakhir, jangan membaca novel ini jika kamu enggan memaknai arti singgah yang sesungguhnya.

Dalam buku ini kamu akan diajak berkenalan dengan sosok Ginah yang keras kepala. Ginah suka dengan bintang. Oleh karena itu, ia belajar banyak hal tentang astronomi.

Tokoh dalam buku ini terbilang cukup banyak. Ada sahabat-sahabat Ginah dari asrama seperti Atma dan Sintia. Atma yang layaknya seorang ibu bagi Ginah karena sering kali menasehati Ginah supaya tidak menyiasiakan masa muda dan harus mengejar impiannya. Sedangkan Sintia, karakternya nakal, selain itu ia pun tidak peduli dengan keadaan orang lain yang penting urusannya selesai. Tipe sahabat yang maunya enak sendiri.

Lalu ada juga pasangan lansia yang keromantisan mereka mengalahkan pasangan muda. Siapa saja yang melihat tingkah laku manja dan kecemburuan Kek Medi dan Nek Osih pasti bakalan iri dan gigit jari.

Kemudian ada pemuda tampan dari Dermaga Mimpi si Justinto yang menjadi idola banyak wanita. Selain beberapa tokoh di atas, ada juga Kresno yang mempunyai kembaran bernama Krisna. Pak Wisnu si donatur kapal milik Nahkoda Hebat yang bernama Suhail. Oh, iya, satu lagi Bang Toha yang menjadi presiden Dermaga Mimpi. Dan masih ada lagi tokoh yang turut muncul dalam buku ini. Siapa saja tokoh yang kumaksud sepertinya kamu harus baca sendiri buku ini.

Tokoh dalam buku ini memang saling berkaitan dan cukup mempengaruhi jalan cerita. Hanya saja, kalau boleh jujur, aku kurang merasakan jiwa dan ekspresi beberapa karakter dari tokoh yang ada. Bahkan ada beberapa tokoh yang berbeda tapi memiliki karakter yang sama. Aku sulit membedakan karakter tokoh dalam buku ini, harus ingat betul-betul namanya. Maafkan aku yang pelupa banget kalau urusan mengingat nama orang.

Omong-omong, aku suka sama desain kover buku ini. Deskripsi bukunya juga menarik. Namun sayang, bagian layoutnya kebanyakan pola bintang yang menutupi tulisan. Sebenarnya masih tampak kok tulisannya, cuma, ya, kesannya jadi ramai kali. Aku agak kurang fokus, deh. 😔

Ada beberapa setting tempat dalam buku ini yakni Dermaga Mimpi, Pulau Ujung Mimpi, dan asrama yang tidak disebutkan lokasi spesifiknya. Lebih banyak sih di atas kapal. Aku bertanya-tanya: tempat tersebut ada di belahan dunia yang mana. Kesannya jadi fantasi😅. Atau aku yang kurang fokus sehingga melewatkan info penting perihal setting tempatnya. Untuk setting waktu lebih sering malam hari, soalnya banyak kejadian di mana Ginah tengah menatap bintang di langit.

Gaya bahasa yang digunakan cukup sederhana dan mudah dipahami. Oh, iya, aku sempat menemukan dialog yang agak menganggu, penggunaan ‘pun’ yang tidak tepat serta beberapa kesalahan penggunaan kata depan ‘di’. Bicara soal alur cerita, di sini alurnya maju mundur dan terkesan terburu-buru. Apalagi ditambah dialog dalam buku ini pun cukup banyak.

Konflik cerita dalam buku ini sebenarnya agak membuatku bingung. Banyak hal yang terjadi terduga-duga tanpa aba-aba, serta penyelesaian konflik yang menurutku terlalu biasa. Meskipun begitu, aku cukup tertarik dengan konflik yang terjadi di antara Ginah dan Atma.

Alasan aku terus membaca buku ini sampai akhir ialah karena aku cukup penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada Ginah. Aku sempat menduga-duga bahwa kejadian yang Ginah alami di atas kapal hanyalah mimpi belaka. Ternyata oh ternyata, semuanya memang benar Ginah alami. Hidup memang penuh misteri, pun buku ini.

Bicara soal Tentang Singgah, kita memang tidak pernah tahu siapa orang yang akan kita temui, kenal, dan kapan, di mana, serta siapa yang pada akhirnya akan berpisah dengan kita. Sebenarnya tema yang diangkat cukup menarik, namun sayangnya banyak hal dalam buku ini yang masih bisa dikembangkan, dan bila mungkin benar-benar dilakukan bisa-bisa halaman buku ini akan cukup tebal.

Akhir kata, aku cukup menikmati buku ini. Buat kamu yang suka membaca buku penuh kalimat inspiratif, tidak ada salahnya untuk kamu mencoba membaca buku ini, hitung-hitung mengisi waktu luang dan menambah koleksi kutipan pilihanmu.

Resensi Buku Creepy Case Club: Kasus Nyanyian Berhantu Karya Rizal Iwan

Judul: Creepy Case Club: Kasus Nyanyian Berhantu
Penulis: Rizal Iwan
Penerbit: Penerbit Kiddo
ISBN: 978-602-481-006-1
Jumlah halaman: 169 halaman
Periode baca: 25 November 2018
Rating buku: 4🌟

Nyanyikan ketika sedang sendiri, dan dia akan datang.

Namira adalah gadis kecil yang tidak biasa. Baginya, hantu bukan untuk ditakuti dan ia justru bersimpati dengan tokoh-tokoh jahat dalam dongeng.

Setelah tak sengaja menyanyikan sebuah lagu lama yang katanya dapat memanggil hantu, arwah seorang anak perempuan meneror Namira. Dibantu Vedi dan Jani, dua teman barunya, ia berusaha mengungkap misteri di balik lagu itu.

Sebuah teka-teki yang membuat mereka mempertanyakan kembali arti baik dan jahat.

Nah, setelah membaca blurb di atas, apa yang ada dalam pikiranmu? Apakah sama denganku yang bertanya-tanya: lagu apa sih yang dinyanyikan Namira sampai-sampai ada arwah seorang anak perempuan yang meneror dirinya? Ih, seram.

Berhubung aku ada beberapa pengalaman cukup buruk yang berkaitkan dengan ‘hantu’. Butuh cukup lama bagiku mengumpulkan keberanian untuk membaca novel ini.

Pertualangan Namira dimulai saat mereka sekeluarga harus pindah dari Dumai ke Jakarta sebab Bapak dipindah tugaskan. Awalnya Namira sangat kesal karena harus kehilangan sahabatnya di Dumai.

Aku suka dengan karakter Namira dalam novel ini karena ia benar-benar unik, pintar, juga menggemaskan. Bagaimana nggak, jika kebanyakan anak di luar sana mengidolakan sosok Princess dan pahlawan super. Sosok malah Namira sebaliknya, ia sangat menyukai tokoh-tokoh jahat dalam cerita. Gara-gara itu pula, hari pertama Namira masuk sekolah menjadi pusat perhatian si Jani, anak cewek penggemar berat tokoh Princess. Sejak awal pertemuan mereka saling tak suka. Layaknya tokoh jahat, teman-teman Namira menyebutnya “Dukun Keriting” oh, ayolah, khas bangetlah sama anak-anak di dunia nyata yang suka mengolok-olok.

Berhubung Namira sangat suka tokoh jahat itu karena ia mempunyai alasan yang kuat. Menurutnya, di dunia ini sebenarnya nggak ada orang jahat. Kalau pun ada, mereka pasti mempunyai alasan untuk itu. Selain itu, menurut Namira tokoh-tokoh jahat dalam cerita juga sangat keren, bisa sihir.

Aku juga suka sama kedua orang tua Namira. Soalnya sejak kecil Namira sudah diajak berpikir logis untuk segala hal. Bukan berarti, kedua orang tuanya tak percaya hal-hal gaib, hanya saja memang belum ada hasil penelitian yang membenarkannya. Begitu juga dengan tokoh Vedi teman baru Namira si kutu buku dari planet kuno yang tidak percaya hantu, menurutnya hantu itu adalah buah dari pikiran kita.

Meskipun begitu, diam-diam Namira tetap berkeinginan bisa melihat hantu. Sampai suatu hari, apa yang ia inginkan menjadi kenyataan. Semuanya bermula saat ia ditantang teman sekelasnya untuk menyanyikan lagu Soleram sendirian di malam hari. Tidak terjadi apa-apa awalnya, namun siapa yang menduga, kehidupan Namira benar-benar berubah. Dan, ia benar-benar melihat hantu! Bukannya merasa senang, Namira merasa dirugikan oleh kehadiran hantu itu. Ia juga merasa was-was soalnya sepanjang hari ia merasa ada yang mengawasi dirinya. Oke, aku nggak bisa bayangin kalau aku ada di posisi Namira! Tapi ini anak kecil loh, anak kecil yang digangguin sama hantu! Luar biasa! Aku geregetan!

Aku suka novel ini. Suka sama semua karakternya. Karakter dalam novel ini benar-benar terasa nyata. Namira, Vedi dan Jani. Siapa juga yang bisa menduga, yang awalnya saling tak suka malah akhirnya bersahabat? Ya, itu, Namira dan Jani. Dari sini kita bisa belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk kita saling membenci.

Eh, terus bagaimana dong kelanjutan Namira yang diteror sama hantu anak perempuan itu? Cie, penasaran, ya? Jadi di sini, Namira, Vedi dan Jani menjadi para dektektif cilik dadakan. Pertualangan mereka seru kali buat diikuti, serius! Gaya bahasanya pun nggak bikin kepala muter-muter. Alur dan konflik ceritanya juga menurutku oke. Apalagi ya, hmm, banyak juga fakta-fakta menarik yang bisa menambah wawasan kita setelah membaca novel ini, misalnya di saat Namira mencari tahu tentang lagu Soleram di internet, dia malah dikagetkan dengan artikel-artikel yang mengungkapkan kisah-kisah kelam di balik sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak.

Oh, iya, bicara soal kekurangan, aku sempat mempunyai beberapa catatan kecil selama membaca novel ini. Meskipun demikian, aku benar-benar menikmati novel ini. Nah, ternyata-ternyata novel ini tidak seseram yang kubayangkan sampai ada adegan berdarah-darah begitu, oh, maafkan aku yang terlalu berpikir berlebihan. Sepertinya mulai sekarang aku harus menghilangkan pikiran-pikiran negatif tentang ‘hantu’ supaya bisa tidur nyenyak. Hahaha.

Setelah membaca novel ini, aku jadi benar-benar paham maksud dan pesan apa yang ingin Kak Rizal sampaikan, sewaktu bincang buku ini di grup OWOB.

Novel ini menurutku bukan hanya bisa dinikmati oleh anak-anak melainkan juga para orang tua. Soalnya tidak ada salahnya sekali-kali kita masuk dalam pikiran anak kecil supaya bisa memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Intinya aku Suka dan menikmati keseruan pertualangan Namira. Jadi penasaran seri keduanya, adakah yang mau traktir? Ehm.

Resensi Buku Titik Terendah Karya Nulis Yuk

Judul: Titik Terendah
Penulis: Nulis Yuk
ISBN: 978-602-52277-3-8
Penerbit: Motivaks Inspira
Jumlah halaman: 309 halaman
Periode baca: 22 November 2018
Rating buku: 3, 5 🌟

Setelah membaca buku ini, saya semakin yakin bahwa berada di titik terendah bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awalan. Banyak hal tak terduga yang bisa didapatkan saat berada di titik terendah, salah satunya semakin paham tentang hakikat hidup ini.
Saya yakin buku ini bisa membuat kamu lebih mudah untuk bersyukur, meskipun saat berada di titik terensah, Insyaallah. – Jee Luvina-Penulis dan founder @nulisyuk.

Saya yakin buku ini bisa membuat kamu lebih mudah untuk bersyukur, meskipun saat berada di titik terensah, Insyaallah. – Jee Luvina-Penulis dan founder @nulisyuk.

Menurutmu titik terendah dalam hidup itu apa sih? Kita semua pasti pernah merasakan bagaimana berada di titik terendah dalam hidup. Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Berputus asa? Atau berusaha bangkit menembus tembok titik terendah tersebut.

Kalau boleh jujur aku suka sama kover buku ini. Empat jempol desain sampul yang keren ini. Warna hitam seolah menggambarkan bahwa berada di titik terendah itu adalah sebuah momok menakutkan bagi semua orang.

Namun, pada kenyataannya, tidak semua orang yang berada di titik terendah benar-benar merasa ketakutan, malah mereka menjadi sosok yang lebih kuat dan tabah menjalani hidup. Yang paling menarik perhatianku adalah penulisan judulnya yang terpisah TITIK-TER-END-AH, kalau dilihat di antara pemenggalan judul tersebut terdapat kata “END” (akhir). Lantas, apakah benar Titik Terendah merupakan akhir dari segalanya?

Dalam buku ini terdapat 59 cerita yang membuatku merasa gundah gelisah, sedih, dan juga merasa harus bersyukur lebih dan lebih lagi atas kehidupan yang kupunya saat ini.

Kisah dalam buku ini benar-benar terasa begitu nyata, seolah-olah aku yang tengah menjadi tokoh utama. Bicara soal jatuh dan bangun memang tidak ada habisnya. Banyak sekali pelajaran beharga yang bisa dipetik dari kisah yang disajikan dalam buku ini. Bukan hanya bicara soal titik terendah dalam hidup. Dalam buku ini juga, banyak sekali kutemui perjuangan jatuh bangun yang dilakukan demi mengapai impian, tak jarang perjuangan itu lebih sering mengalami kegagalan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk mereka terus memperjuangkan impiannya.

Selain itu, buku ini pun bisa dijadikan cermin secara tidak langsung bagi siapa saja yang mungkin menganggap hidupnya paling menderita di dunia ini, paling merana seolah dunia tidak berpihak padanya. Oh, iya, berhubung ini bukan novel, kita bisa membaca secara acak cerita dalam buku ini.

Bicara soal kekurangan aku sempat menemukan tipo serta ada penggunakan kata depan, -nya, yang tak beraturan, sangat disayangkan sekali memang. Meskipun begitu, aku tetap suka buku ini. Selain karena gaya bahasanya mudah dipahami. Cerita dalam buku ini sangat cocok dinikmati di saat santai pun benar-benar cocok dijadikan sebagai bahan renungan. Suatu kesempatan yang sangat berharga bisa membaca buku ini, terima kasih Kak @jihanmw.

“Begitulah pilihan. Kadang saya menyesal, andai saya bisa bertahan lebih lama. Tapi justru kalimat andai itu sendiri yang tak kunjung menyembuhkan luka.” Halaman 86, Kebahagiaan Setelah Jatuh.

“Ada satu hal yang membuatku tersadar, bahwa tidak semua orang bisa menerima sebuah perpisahan, tentang datang dan pergi, dan tentang pedihnya ditinggalkan.” Halaman 264, Aku dan H-1.

“Aku sangat mengerti, berteman seperti menyambung nyawa diri sendiri. Tak ada yang bisa menyambung nyawa untuk psikis kecuali diri kita sendiri.” Halaman 110, Apa? Aku Psikopat?

“Ternyata setiap apa yang terjadi memiliki aeti, termasuk sebuah kehilangan. Bahkan hal yang paling menyakitkan pun selalu menyiman hikmah di baliknya.” Halaman 194, Arti Sebuah Kehilangan.

“Kita bisa memilih untuk ikut larut menjadi jiwa-jiwa yang rusuh, atau justru menjadi jiwa yang tenang, teguh pendirian, dan membawa perubahan pada kebaikan.” Halaman 260, Merengkuh Ridho-Nya.

“Jangan takut gagal, karena kegagalan akan mengajarkanmu makna berjuang. Janhan takut gagal, karena kegagalan akan mengajarkanmu tentang arti kesyukuran.” Halaman 273, Berteman Dengan Kegagalan.

“Aku belajar mengurangi kecepatan langkahlu, mencoba tak terlalu terburu dan memburu. Mensyukuri tiap peristiwa, memahami waktu untuk dibikmati bukan sekadar dilewati.” Halaman 288, My Life, My Choice.

Ayo semuanya mari semangat berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk menggapai impian. Aamiin.

Resensi Buku Seira & Tongkat Lumimuut Karya Anastasye Natanel

Judul: Seira & Tongkat Lumimuut
Penulis: Anastasye Natanel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2018
Jumlah halaman: 248 halaman
ISBN: 978-6020-3876-73
Periode baca: 29 November 2018
Rating: 4🌟

Begitu sembuh dari sakitnya, Seira merasakan perubahan pada dirinya. Dia mendapati ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak bertemu perempuan aneh dalam mimpinya.

Menjadi sehat secara mendadak dan kemunculan orang-orang asing di sekitarnya menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya: pertama, dua anak kembar di kampusnya, Mikaela dan Manasye, yang tiba-tiba menjadi sahabatnya; kedua, Siow Kurur, laki-laki tampan yang mengaku sebagai pelindungnya; ketiga, kumpulan orang yang mengenakan pakaian ala penari Kabasaran yang datang memburunya.

Bukan hanya itu, Papa juga tampak bersikap aneh. Bahkan Giddy, teman kecil Seira yang ia kenal luar-dalam, rupanya menyembunyikan rahasia besar darinya. Hidup Seira telah berubah, ia bukan lagi manusia biasa.

Halo, siapa yang suka baca buku dengan tema mitologi fantasi? Kali ini aku bakalan mengulas buku Kak Anastasye dengan judul Seira & Tongkat Lumimuut. Dalam buku ini Kak Anastasye mengangkat kisah dan budaya Minahasa secara ringan dan menyenangkan. Sedikit info bahwa buku ini berhasil menjadi juara harapan 2 dalam Gramedia Writing Project.

“Apa yang terjadi?”

“Sialan. Jadi karena alasan ini, aku dipanggil?!” Pemuda ini tak kalah terkejutnya denganku.

“Kau baru saja kehilangan satu orang dari kelompok Makarua Siow.”

Seperti info yang ada dalam deskripsi buku ini bahwa setelah Seira sembuh dari sakitnya ia mengalami perubahan dalam hidupnya. Benar saja, kehidupannya memang benar-benar berubah 360 derajat.

Membaca buku ini membuatku jadi teringat dengan film india yang judulnya Koi Mil Gaya, soalnya tokoh utamanya sama-sama sembuh dari penyakit yang mereka derita. Bedanya, dalam film Koi Mil Gaya tokoh utamanya berteman dengan alien.

Nah, di sini Seira berteman dengan makhluk, ehm, mitologi? Ehm, enaknya sebut apa, ya? Ada yang bisa bantu?

“Bagaimana bisa kalian mengubah suasana hati dengan cepat?”

“Kami berduka saat di rumah duka. Sekarang juga masih. But life goes on, Seira. Kesedihan hanya membuatmu terpuruk.”

Mari mengenal karakter dalam buku ini. Dalam buku ini kamu akan berkenalan dengan sosok Seira perempuan delapan belas tahun yang menurutku manusiawi banget. Kalau aku ada dalam posisi Seira kemungkinan aku pun bakal mengira tengah bermimpi buruk atau tengah mengalami gangguan jiwa. Oke, ini pemikiran konyol tetapi memang begitu yang sempat Seira pikirkan.

Selain Seira, ada juga sosok Giddy (sahabat Seira sejak kecil). Nah, sosok Giddy adalah orang pertama yang menyadari perubahan yang terjadi pada Seira. Sebenarnya aku rada baper sama sikap Giddy sama Seira. Di sini Giddy layaknya seorang suami yang siaga 24 jam. Oke, mungkin aku yang baperan.

Dan bersiaplah karena kamu bakalan diajak berkenalan dengan para tokoh Minahasa mulai dari Siow Kukur, dua saudara kembar si penjaga Seira Manasye dan Mikaela, dan juga para tokoh jahat seperti Toar, Burik Muda, Tonaas, Olunglasut, Kopero dan masih banyak lagi deh. Untungnya ada kesayanganku si Siow Kukur yang siap siaga menjaga Seira.

Selain sama Giddy aku juga baper sama tokoh Siow Kukur ini. Haha, apalagi setelah mendapati beberapa fakta tentang kehidupan cinta Siow Kukur pada masa lampau. Kya, dudu, pokoknya perjuangan Siow Kukur melindungi Seira (reinkarnasi Lumimuut) sungguh bikin aku iri. Apalagi Seira dianggap yang paling spesial.

“Tapi kenapa kau tidak merespons saat aku memanggilmu berulang kali di kampus?”

Saat kamu membaca buku ini, kamu juga bakalan diajak berpetualang dan mengenali sejarah Minahasa dengan asik. Saking asik dan sayang buat dilewatkan, aku menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Sensasinya nano-nano. Kadang tegang, haru, dan bikin ngakak.

Jadi di sini, sosok Seira adalah reinkarnasi dari sosok Lumimuut yang menguasai 40 Opo. Opo yang dimaksud buka HP OPPO, ya. Bukan juga Oppa-Oppa imut Korea. Haha.

Jadi, Opo di sini adalah para dewa-dewa kecil/ leluh. Kehadiran para Opo dalam buku ini sangat menghibur selain tugas mereka menjadi sumber kekuatan Seira. Entah bagaimana ceritanya makhluk mitologi bisa mengikuti perkembangan zaman. Bahkan para Opo pun terbilang cukup gaul, lucu, (ya, iyalah, kan ada 40 Opo, bayangin deh betapa rempongnya). Selain suka menggoda Seira, sampai ada lakon mereka ngefollow akun twitter Ivan Lanin. Sumpah! Aku ngakak-ngakak bayangin mereka yang gokil abis.

Pokoknya apa ya, nggak kebayang deh. Hidup di tahun 2018 dengan segala kemajuan teknologi modern eh tiba-tiba malah berurusan dengan kehidupan lampau yang pelik. Mulai dari dendam, rahasia, serta kejutan-kejutan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Nyawa pun menjadi taruhannya.

Aku yang awalnya tidak tahu apa-apa soal Minahasa, setelah membaca buku ini pengetahuanku bertambah. Banyak sekali ulasan menarik tentang sejarah Minahasa. Apalagi bicara soal keturunan Lumimuut yang ternyata mempunyai tiga keturunan: Makarua Siow, Makatelu Pitu, dan Pasiowan Telu.

Makin penasaran nggak sama isi dalam buku ini? Aku sih yes, soalnya jarang banget ada buku yang mengangkat kisah budaya lokal (aku baru baca pertama kali buku yang seperti ini). Seharusnya buku ini mendapatkan apresiasi lebih di kalangan para pencinta buku.

Aku tidak tahu banyak soal mitologi Minahasa. Tapi aku tahu kau Karena, pendeta perempuan yang menciptakan Toar dan Lumimuut.”

Aku tuh suka bingung kalau bikin ulasan buku yang bagus. Iya, bagiku buku ini bagus banget. Bagaimana nggak, gaya bahasanya mudah kupahami, aku pun nggak kesandung tipo atau apalah selama baca buku ini. Entahlah, mungkin karena aku kelewat menikmati buku ini. Tahu-tahu habis. Macam kena sihir. Pokoknya ibarat jalan tol yang nggak ada polisi tidurnya.

Meskipun konflik-konflik dalam buku ini terbilang begitu sederhana cara penyelesaiannya, bahkan setiap bab yang ada cukup pendek. Jadi menimbulkan kesan seolah-olah alur ceritanya terlalu cepat. Sebenarnya iya, padahal aku masih menyimpan banyak pertanyaan atau mungkin di balik semua Itu Kak Anastasye mempunyai alasan tersendiri. Kalau bakal memang ada seri berikutnya, aku tak sabar menanti.

Pokoknya aku suka buku ini. Banget. Buat apa juga konflik berat-berat tetapi kita sebagai pembaca nggak menikmatinya? Yang penting baca buku itu dapat manfaat, bukan hanya sekadar hiburan semata dan cuma buang-buang waktu. Oke, aku mulai meracau. Abaikan.

Gaya bahasa oke. Diksi oke. Alur dan konflik oke. Kover bukunya segar. Pengetahuan tentang Minahasa tersampaikan tanpa kesan menggurui. Ah, suka pokoknya.

Sampai sekarang pun sosok Seira dan kawan-kawan masih terbayang-bayang dalam kepalaku. Ah, sepertinya aku benar-benar jatuh hati sama buku ini.

Sebenarnya banyak sekali yang pengin kutulis tentang buku ini tetapi takutnya malah jadi spoiler akut. Haha. Pokoknya kalau mau tahu lebih lanjut dan kenalan sama Seira dan kawan-kawan, kamu mesti baca sendiri buku ini deh.

Oh, iya, satu lagi, gara-gara baca buku ini aku jadi tertarik untuk mempelajari sejarah dan budaya yang ada di Indonesia. Semoga suatu saat bisa menulis cerita tentang budaya lokal.

Resensi Buku Luka Dalam Bara Karya Bernard Batubara

Judul: Luka Dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Penerbit Noura
Jumlah halaman: 110 halaman
ISBN: 978-602-385-232-1
Periode baca: 7 September 2018
Rating: 4 🌟

Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.

Hmm, membaca buku satu ini menurutku seperti tengah membaca diari yang isinya curhatan hati seseorang teman. Gaya bahasanya cukup luwes dan aku menikmati buku ini.

Selain kovernya yang manis. Ilustrasinya dalam buku ini bagus-bagus, aku suka sekali. Pokoknya pas banget sama tulisan-tulisan pendek dalam buku ini.

Cerita yang paling kusuka adalah Surat-Surat Untuk J. Baper sumpah bacanya, bikin gereget.

Aku rekomendasi buku ini sama kamu yang sering kali jadi tempat sampah alias mendengarkan curhatan teman. Hehe bercanda kok. Pokoknya buat kamu yang suka bacaan ringan tapi menghibur, buku ini cocok menemani waktu luang. Plus bikin baper pastinya. Selamat bernolstagia.

Resensi Buku Strawberry Cheesecake Karya Ayu Widya

Judul: Strawberry Cheesecake
Penulis: Ayu Widya
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah halaman: +304 halaman
ISBN: 978-602-291-138-8
Periode baca: 4 Januari 2019
Rating: 3,5 🌟

Selama menjadi artis terkenal, tantangan kali ini benar-benar mengusik Alana. Demi menarik simpati pujaan hati yang tak kunjung menerima cintanya, Alana menerima tantangan itu . Reality show membuat kue! Di sinilah petaka dimulai. Alana bisa melakukan apapun, kecuali memasak! Kalau bukan karena Aidan, mana mungkin ia bersusah-susah melakukan ini.

Ia terpaksa harus berbohong di depan kamera bahwa ia mahir membuat cake. Adonan menjijikkan, kue bantat, dekorasi mengerikan adalah hasil karya Alana selama proses syuting. Untungnya, ia bertemu Regan, seorang karyawan baru di Strawberry Garden Deli, kafe tempat mereka syuting. Alana takjub dengan kemampuan Regan membuat kue. Karenanya, Alana membujuk Regan habis-habisan untuk mengajarinya demi keperluan syuting.

Meski Regan galak dan menyebalkan, Alana terpaksa belajar darinya. Alana benci harus menghadapi Regan yang sok cool itu setiap hari. Alana benci ketika Regan selalu meremehkan kemampuannya, yang sebenarnya memang tidak ada. Alana benci terlihat bodoh di depan Regan. Dan, yang paling tidak disukai Alana adalah ia benci harus menyangkal tunas-tunas perasaan yang tumbuh di hatinya, untuk Regan.

Siapa di sini yang jago bikin cake? Please, jangan tanya aku. Seumur hidupku ini, baru satu kali aku berurusan dengan adonan kue. Itu pun buat brownies cokelat dengan si ibuk sebagai mentor. Nah, kira-kira nasib Alana bakalan jadi seperti apa, ya? Bohong itu memang bikin urusan makin pelik.

Ceritanya dimulai saat stok Strawberry Cheesecake di toko langganan Alana habis. Saat itu Alana seperti kambing yang kebakaran jenggot. Padahal, ia sudah berjanji akan menemui Aidan, si cowok cute di apartemen Aidan dengan membawa Strawberry Cheesecake buatannya. Gara-gara ingin mendapatkan Strawberry Cheesecake, nggak Alana duga ia malah menghancurkan acara salah satu pelanggan yang tengah merayakan acara ulang tahunnya.

Di balik kover yang bikin mata segar ini, w bermain sinetron stripping. Alih-alih menikmati liburannya, Alana terjebak syuting Celebrity Cake Show. Jujur, Alana lebih suka bongkar tasnya di depan kamera daripada berurusan dengan dapur. Sebenarnya aku rada kasian sama si Alana tetapi salah sendiri kenapa pakai acara bohong sih kalau jago bikin cake cuma gara-gara pengin mendapatkan hatinya Aidan.

Regan si cowok Klub Motor Besar yang seksi, pintar, serta jago bikin cake. Aku jadi terbayang sama Chef Juna, ups, hahaha. Cowok jago masak di mata cewek itu memang tampak kereeen dan punya nilai plus plus plus deh pokoknya. Siapa, sih, yang nggak pengin punya doi modelnya seperti Regan? Jadi, gara-gara ketahuan makan nggak bayar, Regan dihukum sama kakek pemilik Strawberry Garden Deli menjadi seorang kurir. Haha, Regan hanya butuh waktu 15 menit mengantar tiga pesanan. Wuih, yang benar saja! Kalau diadu sama Rosi, bisa-bisa si Regan bakalan menang, nih.

Alana dan Regan bertemu di Strawberry Garden Deli. Alana kaget saat Regan berujar bahwa Alana selalu membuatnya malu. Eh, maksudnya apa? Alana merasa nggak pernah mengenal Regan sebelumnya. Nah, loh?

Setting novel ini di Bandung, lebih spesifiknya di Strawberry Garden Deli. Dari namanya saja sudah terbayang bukan betapa banyaknya strawberry di sana? Aku jadi pengin datang ke sana. Meskipun nggak suka makan buah strawberry bisa ketemu sama Regan, kan, lumayan. Krik. Krik. Krik.⁣

Alana yang nggak bisa masak minta bantuan Regan supaya bisa menyelesaikan tantangan di Celebrity Cake Show. Sayangnya Regan ini terlalu jujur dan apa adanya.⁣

“Aku nggak suka disuruh menyerah, apalagi ada yang meremehkan kemampuanku.” Alana: halaman 75.⁣

“Jangan marah. Aku memang bilang kamu enggak punya bakat memasak, tapi bukan berarti kamu nggak punya bakat. Kamu berbakat di bidang akting dan modeling. Tubuhmu ideal dan wajahmu cantik … kalau tidak cemberut seperti ini.” Regan: halaman 76.⁣


Kalau aku jadi Alana, aku pasti bakalan baper juga sama Regan gara-gara dipuji begitu haha. Eit, sayangnya Regan ini ternyata sudah punya pacar. Sedangkan Alana sejak awal sudah jatuh cinta sama si Aidan makanya dia sampai repot-repot ikutan Celebrity Cake Show itu.

Konflik dalam novel ini sebenarnya cukup sederhana, meskipun begitu aku nggak bisa buat nggak senyum-senyum sepanjang baca novel ini. Interaksi antara Alana dan Regan itu bikin iri sekaligus gokil.⁣

Secara garis besar novel ini menceritakan tentang pencarian cinta sejati dan jati diri. Sisi keluarganya juga ada kok.⁣

Selain itu, banyak kejadian menarik bagiku selama membaca novel ini. Misalnya, saat Alana mendapatkan komentar buruk soal masakannya. Membayangkan betapa kekinya Alana yang manja mendapatkan komentar buruk seperti itu bikin aku lagi-lagi nggak bisa nahan diri buat ketawa-ketiwi. Apalagi saat Alana nggak bisa nahan diri buat nggak tergoda masakannya Regan padahal dia lagi diet, huhu, jadi cewek memang rumit kalau sudah berurusan dengan lemak. Hmm, apa lagi yaaa. Pokoknya seruu dan bikin geregetan bacanya.⁣

Oh, iya, novel ini menggunakan 2 POV yang bergantian antara Alana dan Regan. Gaya bahasanya juga ngalir menurutku. Intinya, aku menikmati novel ini dan aku terhibur. Dibaca berulang kali sensasinya tetap sama. Kak Ayu Widya kayaknya memang jago bikin orang ketawa.