Prosa: Yang Berlalu

Ada suatu masa saat darahku mengalir deras, detak jantungku berdetak kencang. Yaitu saat kamu pertama kali menyapaku. Di saat semua orang tidak peduli akan kehadiranku, kamu malah lebih dulu mengajakku berkenalan. Kita berada dalam ruang lingkup yang sama. Tidak tampak di mata, akan tetapi, kita dekat. Kita saling bercerita perihal kehidupan masing-masing di balik layar.

Kita bicara dalam diam. Membungkam opini tidak jelas dari orang-orang yang curiga kepada kita. Padahal … tidak pernah ada kisah spesial di antara kita.

Meskipun demikian, aku tidak bisa berbohong, betapa bersyukurnya aku karena pernah mengenal orang sepertimu. Diam-diam mencuri pandang padamu sudah menjadi keseharianku. Kita pernah sama-sama peduli. Barangkali, kita tidak pernah ingin siapa pun di antara kita menderita.

Masih ingatkah engkau saat aku bercerita untuk melepaskan seseorang yang tidak pantas aku pertahankan? Ya, pasti. Saat itu, kamu tampak penuh berambisi, kamu memegang janjiku untuk tidak jatuh hati. Akan tetapi, aku kalah. Aku jatuh hati. Meskipun tidak ada raut kecewa di wajahmu. Diam-diam aku bertanya-tanya dalam hati: adakah sedikit rasa cemburu di hatimu?

Waktu berlalu, kita masih seperti biasanya. Saling bercerita. Duduk berdua. Diperhatikan setiap pasang mata. Ah, sampai akhirnya kamu mengakui suatu hal: kamu menyukai seseorang.

Entah kenapa, aku merasa sakit. Rasanya seperti tidak rela melepasmu untuk orang lain. Aku terlalu takut melihatmu sakit.

Aku egois.

Aku marah.

Aku meluapkan emosiku padamu.

Kita tidak bicara.

Kita saling menghindar.

Sampai akhirnya, kamu kembali duduk di sampingku dan menyapaku lebih dulu.

Jujur, rasa lega langsung menyapu rasa sesak.

Kamu bercerita, bahwa kamu tidak ingin melanjutkan perjuangmu untuk perempuan itu.

Akan tetapi, besoknya kamu kembali bercerita tentang seorang adik kelas yang menarik perhatianmu. Rasa sakit kembali menusuk dadaku.

Kamu tidak lagi peduli padaku. Tidak ada lagi cerita yang kita bahas sepanjang malam. Kamu asik dengan duniamu.

Aku memang egois.

Terlalu egois.

Karena sebenarnya, aku rela melepaskan siapa pun demi dirimu.

Sayangnya, tidak ada kesempatan bagi kita berdua untuk saling mencintai.

Kamu, berakhir menjadi kenangan lucu yang kutulis saat ini.