Menikmati Mie Celor Kuliner Khas Palembang, Dijamin Pasti Kenyang!

Ceritanya hari Minggu tanggal 6 Januari 2019 kemarin aku jalan-jalan ke pasar 16. Sebenarnya aku adalah tipe manusia yang nggak bakalan meninggalkan kandang kalau urusan tersebut nggak penting amat. Entahlah, rasanya malas sekali kalau keluar rumah nggak ada tujuan pasti. Kalau disuruh memilih, sudah sangat jelas jika aku akan lebih memilih duduk manis sambil baca buku dan mendengarkan lagu.

Setelah sampai di pasar 16, kami langsung mencari apa yang mau kami beli. Setelah mendapatkan apa yang kami cari dan membelinya dengan jurus tawar-menawar, aku mengajak Dani pulang. Namun, setelah kami melewati masjid Agung dan masuk ke dalam lorong tikus, Dani berkata, “Mau makan mie celor nggak?”

Jujur, nih, seumur hidupku ini belum pernah sekali pun aku makan mie celor. Padahal… mie celor salah satu makanan khas kebanggaan orang Palembang. Jangan coba-coba bertanya 22 tahun ini aku ke mana saja. Hahaha.

“Aku nggak pernah makan mie celor,” sahutku ragu-ragu.

“Makanya coba dulu. Kalau mau, kita putar balik ke pasar 26 ilir,” ujar Dani kemudian.

Sebenarnya aku rada penasaran juga sih rasa mie celor itu sebenarnya seperti apa. Cowok hitam manis itu sempat menawariku makan mie ayam saja kalau nggak mau makan mie celor. Huh, berhubung aku penasaran dengan rasa mie celor dan mumpung ada kesempatan bisa menikmati mie celor tersebut (supaya biar pas ditanya pernah nggak makan mie celor aku bisa agak sombong dikit jawab sudah pernah, meski hanya sekali πŸ˜‹) akhirnya aku menyetujui ajakan Dani.

Tahukah kamu bahwa mie celor pada dasarnya sama seperti mie biasannya hanya saja ukurannya lebih besar mirip mie Aceh. Nah, mie celor ini dihidangkan bersama kuah santan dan kaldu udang, dilengkapi dengan hiasan cantik di atasnya: ada kecambah ( taoge), telur rebus, irisan daun sop (seledri), daun bawang, dan bawang goreng. Nah, berikut tampilan asli mie celor 26 ilir H. M Syafei Z di pasar 26 ilir Palembang.

Ternyata ngggak butuh waktu lama untuk segera menikmati mie celor ini. Soalnya, perasaan aku baru saja duduk sekitar 1-2 menit mie celor ini sudah siap dinikmati. Saking kagetnya aku berkata, “Kok cepat sekali?”

Mendapati pertanyaan seperti itu, Dani malah tertawa, lalu menjawab, “Namanya juga mie celor. Tingal di celor langsung jadi.”

Huh, aku mendengus mendapati jawaban seperti itu. Sebelum benar-benar menikmati mie celor tersebut, aku menambahkan kecap dan sambal di atas mie celor milikku. Sedangkan Dani sudah lebih dulu menikmati mie celor miliknya tanpa memedulikan aku yang sedang bereksperimen dengan mie celor milikku πŸ˜….

Setelah sukses mengambil gambar dokumentasi (gayanya dokumentasi haha), aku akhirnya menyicip kuah mie celor tersebut dan rasanya… lumayan enak. Penasaran, aku pun menyicipi mienya dan rasanya lebih kenyal dan besar dari mie instan yang sering kumakan, hehe.

Namun sayangnya, aku yang memang pada dasarnya nggak terlalu suka makan-makanan yang berkuah santan terpaksa menghabiskan mie celor tersebut dengan penuh perjuangan. Atau memang karena porsi mie celornya cukup banyak, ya?

Meskipun perut sudah kembung makan mie celor, aku juga masih harus menghabiskan es kacang merah yang tampak seperti gunung dempo. Oh, ayolah, makan mie celor ditemani es kacang merah bukanlah perpaduan yang cocok. Mungkin di lain kesempatan aku akan hanya meminta es jeruk manis atau teh saja.

Soal harga, dua porsi mie celor dan es kacang merah cukup merogoh kocek sebesar 60 ribu. Satu porsi mie celornya dihargai 20 ribu. Sedangkan untuk es kacang merahnya 10 ribu.

Buat kamu yang mungkin esok-esok bakalan main ke kota Palembang. Entah itu menghabiskan masa liburan atau sekadar singgah untuk bertugas, nggak ada salahnya buat kamu mampir dan mencicipi mie celor 26 ini. Kalau disuruh kasih rating buat mie celor ini, hmmm, aku kasih rating 3,5 🌟 buat kuahnya yang sedap kali pas hangat dan porsi mienya yang bikin kenyang. Ini hanya sekadar soal selera. Buat kamu yang doyan santan, aku yakin kalian pasti jatuh hati dengan mie celor 26 ilir ini.

Iklan

2019 Wajib Bayar Denda Baca 80 Buku! Eh, Kok Bisa?

Sumber gambar: Pixabay/ThoughtCatalog

Rasanya sudah lama sekali aku nggak menulis di blog. Entahlah, tahun kemarin benar-benar terlalu banyak hal pelik yang bikin aku malas ngapain-ngapain. Ya, meskipun demikian, semoga di 2019 ini segala hal yang ingin aku lakukan berjalan lancar. Aamiin.

Oh, iya, di kesempatan kali ini aku mau posting daftar buku apa saja yang aku baca di 2018. Setelah kuhitung pakai hidung, eh, jari maksudnya… ternyata oh ternyata ada 40 buku yang berhasil kubaca. Padahal… targetku tahun kemarin bisa kelar baca 50 buku. Yaa, kalau dipikir-pikir, bisa membaca 40 buku dalam satu tahun adalah hal yang membanggakan bagiku. Kalau diingat-ingat, 2018 cukup mengambil peran besar, sebab 2018 menjadi titik awal di mana aku lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca buku. Semoga di 2019 aku bisa membaca dan menulis lebih banyak di 2018. Aamiin. Berikut daftar buku yang kubaca:

1. Pangeran Bumi Kesatria Bulan karya Ary Nilandari
2. Perempuan Langit karya Dita Safitri
3. The Coffe Memory karya Riawani Eltya
4. Konstelasi Rindu karya Farah Hidayati
5. Cerpengram karya Peng Khen Sun
6. Peek a Boo, Love karya Sofi Meloni
7. Dari Timur karya Ama Achmad, dkk.
8. Cinta 4 Sisi karya Indah Hanaco
9. Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Z
10. Karma Cepat Datangnya karya Arimbi Bimoseno
11. Radio Galau FM Fans Stories karya Radio Galau FM
12. Summer In Seoul karya Ilana Tan
13. 3 Segi Cinta karya Boyke Abdillah
14. Bukan Salah Bintang Jatuh karya Aisha Yuliana
15. Seri Kiat Praktis Perencanaan Keuangan: Buka Usaha Nggak Kaya? Percuma! karya Safira Senduk
16. Dari Do It Menjadi Duit karya Trani Retno A dan Yanti Isa
17. Luka Dalam Bara karya Bernard Batubara
18. Lettie: Let’s Play Outside karya Hardi Lim
19. Re: karya Maman Suherman
20. Eleven Minutes karya Paulo Coelho
21. Creepy Case Club karya Rizal Iwan
22. Seira & Tongkat Lumimuut karya Anatasye Natanel
23. A Sinner karya Ria Amalia
24. Secangkir Kopi Tanpa Kafein karya Rose Kusumaning R
25. 45 Kesalahan Penulis Wattpad karya Neinilam Gita
26. Sederet Cerita Para Pencinta Buku karya Komunitas One Week One Book
27. Ruang Tengah karya Nulis Yuk
28. Titik Terendah karya Nulis Yuk
29. Hujan Bulan Juni karya Sapardi
30. Tentang Singgah karya Laditri
31. Dunia Maya karya SBC Surabaya
32. Runaway karya Keiza Evi Wiadji
33. Teman Tapi Musuh karya Eifel Dastin
34. The Rainbow karya Jesiccw Chandra
35. Forgive to Forget karya Daissy Ann
36. Di Tanah Lada karya Ziggy Z
37. Tips & Trik Mendapatkan Modal Usaha & Mengelolahnya karya Aqila Smart
38. Kota Kata Kita karya Gramedia Writing Project
39. Cinta Akhir Pekan karya Dadan Erlangga
40. Rooftop Buddies karya Honey Dee

Dan ya, ini tampak muluk soalnya di 2019 ini aku pasang target dua kali lipat dari jumlah buku yang kubaca di 2018. Sebenarnya ini termasuk dalam niat bayar hutang atau anggaplah sebagai hukuman karena nggak sampai target.

Jadi… di 2019 target baca yang harus aku selesaikan adalah 80 buku. Jika dibandingkan sama kawan-kawan lain, target 80 buku terbilang kecil. Ya… meskipun demikian, pokoknya aku mau baca dan menulis lebih banyak buku di 2019 ini. Semoga aku bisa konsisten dan rajin nulis di blog ini (sambil nyicil menulis resensi buku yang sudah kubaca di atas, yaaa semoga saja lancar).

Kalau kamu? Baca berapa buku 2018 kemarin? Dan berapa target bacamu tahun ini?