Waspada Modus Suplai Pulsa via Whatsapp! 600 Ribu Melayang!

Sumber gambar: Pixabay/Sarenawong

Asalamualaikum, marhaban, teman-teman.
Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu, ya.

Kamis, 11 April 2019 aku mendapat balasan pesan dari seorang teman yang kukirim tadi malam di Whatsapp. Kemarin ia membuat status di Whatsapp yang isinya sungguh memperihatinkan, kata-kata yang ia lontarkan penuh rasa kecewa. Ia juga menuliskan bahwa uang hasil menipu tidak akan pernah berkah sampai kapan pun.

“Ada apa, Kak? Astaga, kok bisa?” Aku mengirim pesan singkat menanggapi statusnya.

Tak lama kemudian, ia membalas, “Ceritanya panjang. Aku ditipu sama anggota TNI.”

Mendapat balasan itu, jantungku berdegup kencang.

“Astagfirullah, kok bisa, Kak? Posisinya ditipu bagaimana, Kak? Kalau ada data orangnya laporin saja, Kak, ke polisi!” balasku.

Tidak lama kemudian, temanku itu mengirim rekaman suara yang panjangnya 04:44 menit. Berhubung suasana tidak mendukung untuk mendengarnya, aku pun menunggu waktu yang tepat. Sekitar jam tujuh malam aku memutar rekaman suara tersebut. Ia menceritakan kronologis kejadiannya, kurang lebih begini ceritanya:

Temanku mempunyai seorang sepupu laki-laki yang merupakan anggota TNI. Lalu, ada pesan masuk di Whatsapp miliknya yang menggunakan foto sepupunya dan mengaku baru saja mengganti nomor ponsel. “Disimpan, ya, Mbak nomor baruku. Yang lama nggak dipakai lagi.”

Temanku percaya saja. Soalnya memang tidak ada yang patut dicurigai perihal seseorang yang mengganti nomor whatsapp. Aku saja sudah berapa kali mengganti nomor Whatsapp.

Saat temanku itu bertanya ada perlu apa mengirim pesan padanya (soalnya jarang saling kirim pesan, kecuali hal penting, aku temanku). Tiba-tiba orang itu menawari bisnis menjadi suplai pulsa (agen pulsa). Cara kerjanya adalah mengisi pulsa senilai Rp. 100.000 kemudian akan diganti uangnya sebesar Rp. 123.000 oleh komandannya (ceritanya yang ajak bisnis itu si komandan sepupunya). Temanku menolak, sebab ia terang-terangan memberitahu jika tidak ada modal meskipun untungnya lumayan.

Tidak berhenti di situ, orang itu belagak menawarkan bantuan untuk meminjamkan uang miliknya untuk modal awal. Pokoknya si pelaku terus mendesak, tidak menyerah dan terus memaksa temanku agar mau ikut bisnis tersebut. Akhirnya temanku pun termakan rayuan orang tersebut. Temanku pun mengirimkan nomor rekening miliknya di Whatsapp orang itu. Tidak lama kemudian, orang itu mengirimkan bukti resi bahwa uangnya sudah di transfer ke rekening bank temanku. Setelah dicek, tidak ada uang masuk sama sekali ke rekeningnya. Setelah ditanya kembali, orang itu beralasan mungkin masih dalam proses, soalnya dia transfer via brilink.

Pada saat kejadian, temanku tidak sedang sendirian, ia tengah bersama temannya. Tiba-tiba si pelaku mengirimkan beberapa nomor yang harus diisi pulsa dengan uang transferan tersebut. Kurang-kurang, ia mendesak agar temanku segera mengisi pulsa nomor-nomor tersebut dengan alasan uangnya sudah masuk. Saking mau memastikan, temanku dan temannya pergi ke bank BCA. Namun, pihak bank pun menyatakan hal yang sama, tidak ada uang yang masuk dalam rekening miliknya.

Rasa bingung menyelimuti temanku, apalagi orang tersebut terus mendesak. Nah, temannya temanku itu pun memberi usul bagaimana jika temanku mengisi enam nomor dulu menggunakan uang miliknya. “Kita isi enam nomor dulu saja, kan, ini ada buktinya kalau uangnya masuk.”

Temanku menolak. Ia mengatakan untuk menunggu uang transferan itu masuk saja. Akan tetapi, temannya juga ikutan memaksa. Akhirnya, temanku itu setuju untuk mengisi enam nomor yang diberikan sepupu palsunya menggunakan uang temannya.

Setelah mengisi pulsa pada nomor-nomor tersebut, temanku memberi kabar pada sepupunya. Dan anehnya, setelah membaca pesan darinya, sepupunya itu memblokir nomor miliknya. Ada apa? Pikirnya.

Tanpa pikir panjang lagi, temanku mencoba mengirim pesan pada nomor Whatsapp sepupunya yang lama. Dan ternyata Whatsapp sepupunya itu masih aktif. Sepupunya langsung menanggapi, “Ada apa, Mbak?”

Temanku langsung bertanya dong soal uang yang dikirim belum juga masuk sampai detik itu. Sedangkan ia sudah mengisi pulsa pada enam nomor yang diberikan. Sepupunya yang asli kaget bukan main. Pertama, ia tidak mengganti nomor ponsel whatsapp miliknya. Kedua, ia tidak merasa menawari temanku untuk menjadi agen pulsa. Setelah ditelusuri saat sepupunya memasukkan nomor ponsel si penipu di ponselnya, foto profilnya sudah berubah. Posisinya mereka tidak tahu itu foto asli atau foto samaran yang baru. Pasalnya namanya juga sudah berbeda. Saat temanku mencoba mengirim pesan pada nomor itu menggunakan nomor baru, selalu saja berakhir diblokir. 600 ribu pun melayang tanpa pikir panjang.

Ceritanya sampai di situ saja, ya.

Tindak laku kejahatan sekarang bisa terjadi di mana saja dan pada siapa saja. Contohnya saja kasus penipuan yang dialami oleh temanku di atas. Pelaku menggunakan data orang terdekat dengan untuk mengelabui korban. Temanku yakin yang menipunya itu adalah salah satu anggota TNI, sebab kemungkinannya besar karena ia memakai data sepupunya (soal ini kita juga nggak bisa memastikan).

Untuk teman-teman semuanya, waspada adalah hal yang paling utama untuk kita lakukan. Dari cerita di atas, tidak ada salahnya untuk mengecek nomor lama apakah memang sudah tidak aktif. Untuk suplai pulsa sendiri, mana ada yang model begitu (setahuku, ya). Suplai pulsa itu mendapatkan untung dari transaksi jual pulsa si member yang isi saldo dengannya. Lagipula, keuntungan yang didapat tidak banyak, tidak sampai 23 ribu dalam satu transaksi. Paling-paling kisaran 200-500 rupiah. Misal harga modal kita pulsa 5000 itu 5000 rupiah, maka kita naikan harganya jadi 5700 misalnya. Lalu member kita menjual pulsa dengan harga 7000 untuk pulsa 5000. Bisa lihat bukan berapa banyak untungnya? Kalau memang ada bisnis pulsa yang sekali transaksi 100 ribu dapat untung 23 ribu, aku pasti orang pertama yang mau mendaftar. Pengalaman pribadi, aku sering kali menolak jika ada yang ingin membeli pulsa senilai 100 ribu. Ada dua alasan: pertama, menghindari salah ketik angka, lumayan banget, kan, kalau salah ketik nomor, 100 ribu melayang. Kedua, untungnya tipis.

Pengalaman serupa perihal modus pulsa juga pernah terjadi pada diriku. Waktu itu ada seorang pria cukup berumur datang ke warung dan menawarkan mendaftar agen pulsa dengannya. Ia membawa brosur yang isinya juga daftar harga. Kalau dilihat-lihat memang jauh lebih murah dibandingkan dengan agenku sebelumnya. Singkat cerita, orang itu menawarkan agar aku membeli voucer kuota. Akan tetapi, ia meminta uang terlebih dahulu dan besok pagi ia baru akan memberikan kuotanya (sistem pre-order begitulah). Loh, kok? Aku kaget. Minimal belanja kuotanya 500 ribu kalau tidak salah. Aku nggak mau dong. Untungnya tempo hari aku bersama ibu menjaga warung, jadinya, ya, aku nggak sendirian menghadapi pria itu. Aku pun terang-terangan menolak. Ia tidak menyerah begitu saja, ia malah menyarankan agar aku mengisi saldo dengannya. Kalau tidak salah 50 atau 100 ribu, ya? Aku lupa. Aku setuju untuk diisi saldo pulsa (sebenarnya ini jangan juga ditiru, soalnya saldo itu sifatnya bisa ditarik), nggak lama kemudian ada sms masuk di nomorku yang mengatakan bahwa nomorku baru saja diisi saldo dari agen XXX. Aku ambillah brosurnya, aku ketik cara-cara mengecek saldo. Pria tersebut tampak gelisah. Aku bilang, saldonya belum masuk. Dia ngotot, kan, sudah ada sms laporannya (lagian aku juga bisa kalau sekadar buat sms palsu seperti itu). Aku balik ngotot, tetapi kenapa nggak bisa cek saldo? Pria itu pun kabur begitu saja? Nah, loh? Ngomong-ngomong, nyaris saja diriku menjadi korban penipuan berkedok agen pulsa.

Selang beberapa hari, ada seorang sales yang mampir di warungku. Ia bercerita bahwa ada salah satu pelanggannya, seorang ibu-ibu yang baru-baru ini ditipu habis-habisan. Modusnya sama, pulsa juga. Jadi, kan, saldonya memang nyata sudah masuk. Eh, saat orangnya pulang, ada sms masuk bahwa saldo miliknya ditarik.

Aku ada pesan buat teman-teman semua: biasanya yang suka menjadi sasaran modus adalah orang yang baru membuka usaha. Meskipun begitu, kita semua wajib untuk waspada. Apalagi sebagai seorang pedagang, kita benar-benar harus jeli. Jangan mudah tergiur dengan modus manusia tidak bertanggung jawab. Sebab, kita semua tahu betul, jika ingin mendapatkan lebih maka berusahalah untuk kerja keras dari biasanya.

Semoga kita semua berada dalam lindungan Allah Swt.. Aamiin. Teruntuk temanku, rejeki yang jauh lebih besar dan berkah sudah Allah persiapkan untukmu. Percayalah. Ikhlas terkadang terasa berat, akan tetapi, dengan adanya ikhlas, kita akan sadar bahwa banyak hikmah di balik segala musibah yang datang.

Salam, Dea Ayusafi.
Palembang, 15 April 2019

Seberapa Penting Repsesi Pernikahan Itu?

Asalamualaikum, marhaban, teman-teman.
Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu, ya.

Pagi ini cuaca di Palembang sedikit mendung dan berudara dingin (pada saat tulisan ini selesai kutulis hujan akhirnya turun juga, hehe). Awalnya aku tengah duduk di dalam kedai sambil baca-baca ulang postingan di blog. Sampai akhirnya, aku teringat pada kejadian kemarin sore yang cukup menarik simpati kebanyakan tetangga di sekitar tempat tinggalku. Jadi begini ceritanya, ada seorang pria dan perempuan yang akan melangsungkan pernikahan dua minggu lagi.

Di setiap daerah pasti mempunyai adat masing-masing dalam merayakan pernikahan anaknya. Contohnya saja di tempatku, misalnya si pria memberikan mahar beserta uang untuk biaya repsesi senilai 20 juta. Maka, pihak perempuan yang akan mengurus semua hal yang berkaitan dengan repsesi pernikahan. Dan segala biaya berasal dari uang repsesi yang diberikan pihak pria. Lebih atau kurang biaya repsesinya kembali kepada pihak perempuan. Seandainya pihak perempuan tidak sanggup mengurus repsesi pernikahan. Maka, pihak lelaki yang akan mengurusnya. Jika segala repsesi pihak lelaki yang mengurus, selain mahar, pihak perempuan masih diberi uang tetapi nilainya tidak banyak. Pokoknya, semuanya tergantung kesepakatan bersama antara dua bela pihak. Tidak ada paksaan.

Nah, kasus yang cukup heboh di kampungku kemarin sore adalah pihak pria sudah memberikan uang sebesar 50 juta untuk biaya repsesi. Dan, masalahnya, orang tua perempuan memberi kabar jika minta tambah 20 juta dengan alasan biaya repsesinya kurang, nah-loh, kok bisa? Kabarnya, mereka memang akan melangsungkan pernikahan di gedung. Pihak pria menolak menambah uang repsesi. Bahkan, tidak disangka pria yang akan menikahi perempuan itu terang-terangan mengatakan lebih baik ia menikah dengan perempuan lain saja.

Jadi di sini aku mau mencoba menganalisa permasalahan di atas. Pertama, kedua bela pihak pasti sudah melakukan musyawarah sebelum mencapai kesepakatan. Lalu, jika aku dalam posisi orang tuanya, jika memang tidak sanggup mengelolah uang 50 juta itu untuk repsesi yang acaranya digelar di gedung, lebih baik dari awal biarkan pihak pria yang mengurusnya. Paling tidak, jika memang akan ada kekurangan biaya, pihak pria bisa lebih memaklumi karena memang mereka yang mengelolanya. Atau, opsi kedua, cari gedung yang harga sewanya murah dan sesuai budget jangan sebaliknya. Istilahnya begini, ada uang kita makan ayam. Tidak ada uang kita makan ikan. Pokoknya disesuaikan dengan budget. Cari souvenir yang murah. Cetak undangan yang murah. Cari catering yang bersahabat.

Kedua, pihak pria menolak untuk menambah budget. Bahkan si prianya pun membatalkan rencana pernikahannya. Pertanyaan, si pria sebenarnya cinta tidak dengan kekasihnya? Memangnya tidak ada solusi yang lebih baik? Kalau memang tidak cukup mau diapakan lagi. Seharusnya ada pengertian dari pihak perempuan. Kalau memang kurang, sisanya dibagi dua misalnya. Ya, kita hanya bisa berkata-kata, yang menjalaninya, kan, mereka. Aku tidak tahu pasti uang 50 juta itu dikembalikan atau tidak. Katanya, sih, sebagian sudah di DP sana sini untuk acara repsesi nanti. Hanya Allah Swt. dan mereka yang tahu.

Ketiga, sebagai seorang perempuan aku merasa sedih. Aku juga merasa kecewa dengan sikap orang tua si perempuan. Ini, kan, yang mau menikah anaknya, bukan mereka? Seperti yang kubilang di atas pada poin pertama. Ayolah para orang tua, jangan mempersulit anaknya yang mau menikah. Menikah itu ibadah, kenapa harus dipersulit? Sedangkan Allah Swt. saja mempermudah hambanya yang mempunyai niat baik. Menikah itu mencari ridho dan berkah. Bukan sebaliknya. Resepsi hanya berlangsung satu hari kenapa harus dilebih-lebihkan. Oke, memang harus dilebihkan dong, kan, berlangsung satu kali seumur hidup. Ya, memang. Kalau aku, sih, akan lebih memikirkan masa depan daripada satu hari yang akan berakhir dalam 24 jam. Jika memang ada, ya, tidak masalah. Kalau tidak ada, ya, jangan memaksakan diri!

Perempuan yang baik adalah perempuan yang tidak memberatkan pria yang ingin menikahinya. Sedangkan pria yang baik adalah pria yang memberi sebanyak-banyaknya berdasarkan kerelahan hati (ikhlas).

Allah SWT berfirman:

وَاٰ تُوا النِّسَآءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِ نْ طِبْنَ لَـكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـئًـا مَّرِیْۤـــٴًﺎ
wa aatun-nisaaa`a shoduqootihinna nihlah, fa in thibna lakum ‘an syai`im min-hu nafsan fa kuluuhu haniii`am mariii`aa

“Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 4)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Hmm, kalau orang tuaku, sih, sejak awal sudah bilang terus terang. Ada cara ada. Tidak ada cara tidak ada. Yang penting menikah dengan cara yang baik. Kalau ada, ya, apa salahnya mengadakan repsesi dan mengundang para tetangga, teman, kerabat, dan sebagainya. Hitung-hitung sedekah, jadi harus ikhlas, dong.

Setiap orang tua pasti pengin anaknya menikah dengan cara yang baik dan sama dengan kebanyakan orang di luar sana yang mengadakan repsesi pernikahan. Hanya saja, balik lagi, maunya harus ada sikap pengertian di antara kedua bela pihak supaya masalah seperti di atas tidak terjadi pada orang lain. Aku menulis ini hanya untuk sebagai pengingat bagi diri sendiri, tidak ada maksud lain, semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari masalah di atas. Aamiin.

Akhir kata, semoga kita semua berada dalam lindungan Allah Swt. Terima kasih yang sudah membaca postingan ini. Boleh, dong, ya, tulis pendapatmu dengan masalah di atas di kolom komentar. Aku penasaran dengan sudut pandang orang lain terhadap masalah ini. Barangkali apakah ada yang berpendapat sama denganku?

Lima Tahun Lagi, Apa Harapanku?

Asalamualaikum, marhaban teman-teman.
Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu, ya.

Yey, di kesempatan kali ini aku mau membahas yang namanya keinginan atau harapan atau impian, ya, pokoknya hal-hal yang ingin diwujudkan menjadi kenyataannya yang indah. Cie-elah.

Nah, aku mau bertanya sama kamu, (yang baca tulisan ini) apa harapan atau impian teman-teman dalam lima tahun ke depan? Jika berkenan, boleh dong tulis satu harapan kamu di kolom komentar, supaya teman-teman yang lain bisa ikut mengaminkan.

Umurku sekarang 23 tahun. Seandainya diberi umur panjang sampai lima tahun lagi, berarti kelak umurku menginjak 28 tahun. Masih kepala dua, ya, haha. Lantas, apa harapanku dalam lima tahun depan?

Sebenarnya aku mempunyai banyak sekali keinginan, hanya saja itu dulu. Berjalannya waktu keinginan-keinginan tersebut terkikis seiring pola pikirku yang berubah. Tiga tahun lalu setelah memutuskan berhenti bekerja keinginan terbesar dalam hidupku adalah membuka usaha sendiri. Dan, alhamdulilah, tiga tahun terakhir aku disibukkan dengan aktivitas menjadi seorang pedagang pemula (masih sering nombok 🤣).

Di titik sekarang, aku mempunyai beberapa keinginan yang semoga bisa menjadi kenyataan dalam kurung waktu lima tahun lagi. Aamiin.

Pertama, aku ingin membuka toko sendiri ( sekarang masih bergabung sama orang tua). Selain itu, aku juga berharap bisa mempunyai pegawai satu sampai dua orang. Semoga keinginanku ini segera terwujud, aamiin.

Kedua, aku pengin membeli rumah. Pokoknya sebelum umur 30 tahun aku harus sudah punya rumah sendiri. Entah, itu rumah bersama suamiku kelak atau pribadi milik sendiri. Kalau bisa, sih, milik pribadi, hitung-hitung investasi jangka panjang.

Ketiga, aku pengin menerbitkan buku. Sebenarnya ini adalah keinginan yang gampang-gampang susah. Gampangnya tinggal menulis saja, bukan? Susahnya, apakah aku siap karyaku dikritik oleh orang lain? Terdengar lucu bukan? Ditulis dan diterbitkan saja belum tetapi sudah memikirkan komentar orang lain. Meskipun demikian, lebih baik aku tidak pernah menerbitkan buku seumur hidupku dari pada apa yang kutulis memberikan efek negatif lebih besar daripada efek positifnya (Anda terlalu mencari-cari alasan!)

Keempat, aku pengin melepas status lajangku, haha. Bukan rahasia umum kalau perempuan di atas 25 tahun agak sulit mendapatkan pasangan. Oke, jodoh, maut, dan rejeki memang sudah diatur oleh Allah Swt. Akan tetapi, kalau tidak ada usaha dan upaya yang dilakukan, sama saja bohong, bukan?

Ini bukan soal berlomba-lomba siapa cepat menikah. Hanya saja, sejak dulu harapanku memang ingin menikah di usia muda. Apalagi faktor keluarga dan lingkungan. Kenapa aku pengin menikah di usia muda? Kapan-kapan akan kuberitahu alasannya.

Kelima, semoga dalam lima tahun kedepan segala hal yang ingin kucapai diberi kelancarkan serta diberkahi oleh Allah Swt. Manusia bebas menentukan impian apa saja yang ingin dicapai. Meskipun Allah Swt. selalu memberi apa yang kita butuhkan lebih dahulu dari pada apa yang kita inginkan. Kita tidak boleh menyerah begitu saja untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Pokoknya usaha dulu. Lakukan dulu. Hasil dan nilai akhirnya biarkan Allah Swt. yang menilai pantas tidak kita untuk mendapatkannya.

Jadi, apa harapanmu dalam lima tahun ke depan? Kepo sedikit boleh dong, hihi. Pokoknya jangan lupa tulis di kolom komentar, ya. 🤗

Jangan Tanya Malam Mingguku!

Halo teman-teman, asalamualaikum.
Apa kabar kalian hari ini? Semoga sehat dan bahagia selalu, ya.

Bagi kebanyakan orang, malam Minggu adalah hari spesial yang paling dinanti. Apalagi bagi para pasangan kekasih dan keluarga bahagia. Malam Minggu adalah malam yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Setiap orang mempunyai cara masing-masing meikmati malam Minggu. Ada yang jalan-jalan ke taman kota. Cuci mata di mall. Makan malam bersama atau menonton di bioskop, dan masih banyak lagi hal seru lainnya. Nah, bagaimana dengan kalian?

Menurutku, malam Minggu sama halnya dengan malam-malam lainnya. Tidak ada hal yang istimewa. Seperti biasa, saat azan isya berkumandang, itu saatnya untuk berberes pulang ke rumah. Sesampai di rumah, tidak ada hal-hal yang cukup berarti untuk dilakukan.

Jika perut terasa lapar, ya, makan. Pokoknya setelah melakukan ritual bersih-bersih, itu saatnya mojok di atas kasur sambil bermain ponsel, sampai akhirnya rasa lelah memberi perintah untuk segera tidur. Lebih tepatnya, malam Minggu adalah waktu yang pas untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Entahlah, aku juga penasaran kenapa jika hari libur badan terasa lebih bersemangat bangun pagi. Contohnya saja adikku yang paling kecil. Giliran hari libur ia selalu bangun pagi dan langsung mandi. Kalau hari biasa? Jangan ditanya.

Kenapa malam Minggu selalu dinanti? Kira-kira apa, ya, alasannya. Hmm, mungkin karena di hari libur kita bebas mau melakukan apa saja, di luar kebiasaan sehari-hari yang mungkin agak membosankan. Itu sebabnya, otak memberi sinyal positif dan orang-orang lebih terlihat bahagia di saat hari libur. Tidak heran lagi jika malam Minggu selalu dinanti. Malam Minggu bisa dikatakan menjadi awal kebebasan yang hakiki.

Hanya saja, sepertinya malam Mingguku tidak terlalu asik untuk dijadikan topik yang menarik. Soalnya tidak ada bedanya antara malam Minggu dan malam lainnya.
Meskipun malam Mingguku tampak tidak menarik, aku tidak merasa kecewa kok. Soalnya mau kecewa juga aku bingung, mau kecewa di sisi apa? Tidak jalan-jalan seperti kebanyakan orang? Menurutku, kalau memang pengin jalan-jalan kenapa harus malam Minggu? Memangnya dilarang jalan-jalan di malam Senin? Apa, ya, aku malah bersyukur malam Mingguku yang seperti sekarang. Setidaknya, kemungkinan masuk angin gara-gara angin malam lebih kecil kemungkinannya. Dan juga, uang saku bisa lebih hemat, haha.

Teruntuk kamu yang mungkin sedang bergalau ria, sebab tidak ada yang datang mengetuk pintu di malam Minggu jangan bersedih hati. Jangan sedih, berat. Malam Minggu akan tetap berlalu tanpa menunggu siapa pun yang mengetuk pintu rumahmu. Jangan jadikan hal-hal yang pada dasarnya tidak pantas dijadikan masalah, kamu jadikan masalah. Buka mata, hati, dan pikiranmu. Banyak hal yang jauh lebih beharga untuk kamu lakukan daripada mengeluhkan malam Minggu di rumah saja.
Malam Mingguku mungkin membosankan bagi sebagian orang, akan tetapi, bagiku malam Minggu adalah malam terbaik untuk melintasi alam mimpi lebih awal. 🤣🤣🤣

Semoga yang baca postingan ini nggak akan pernah merasa menyesal. Sebab, aku telah mengacaukan malam Minggu yang tenang dan damai. Maafkan aku. 🤣😋
Terima kasih banyak yang sudah baca, selamat malam Minggu.

Mengembalikan Pemberian Orang Lain, Tega Nggak Sih?

Asalamualaikum, teman-teman. Selamat malam.

Di postingan kali ini aku mau bercerita sedikit soal pengalaman kemarin lusa. Sebenarnya ini bukan suatu pengalaman yang menarik dan menyenangkan. Meskipun demikian, kayaknya pengalaman satu ini nggak ada salahnya buat kubagi sama kalian. Kali saja ada di antara kalian yang punya pengalaman sama sepertiku, dan kita bisa bertukar pendapat.

Jadi, begini ceritanya. Kemarin lusa ada seseorang yang mengembalikan barang pemberianku. Awalnya aku kaget, apalagi mendengar alasannya karena “malas memakainya”. Berhubung aku nggak mau cari masalah, ya, aku diam saja. Aku berusaha sebisa mungkin untuk berpikir positif: mungkin orang itu dari awal memang nggak butuh.

Tapi, teman-teman, yang buat aku agak sedih kenapa baru dikembalikan sekarang? Kenapa nggak ditolak saja pada saat aku memberikan barang tersebut? Toh, kayaknya itu jauh lebih manusiawi menurutku daripada disimpan lalu dikembalikan? Atau, berikan pada orang lain saja? Duh, memang buat pusing sendiri kalau memikirkan hal-hal yang seharusnya nggak perlu kita pikirkan.

Kalau ada yang bertanya padaku bagaimana rasanya saat kamu memberi seseorang suatu barang dengan ikhlas tapi malah dikembalikan?

Jawabannya adalah serba salah. Mau marah, aku takut kalau ujung-ujungnya bakalan jadi masalah sama oramg tersebut. Hanya saja rasanya itu nggak enak. Seolah-olah nggak menghargai pemberian orang (maafkan pikiran kotor ini yang entah mengapa tiba-tiba melintas di kepalaku).

Gara-gara pengalaman ini pula aku jadi berpikir bagaimana jika seandainya aku yang berada di posisi orang tersebut.

Bagiku apa yang datang dalam kehidupanku adalah rejeki, apalagi itu hal baik. Suka nggak suka, barang tersebut pasti aku terima. Meskipun nggak kupakai, pasti akan kusimpan dalam lemari, hehe. Lagian, aku suka dikasih hadiah tapi nggak ada yang kasih 🤣(kodekeras.com).

Teman-teman, pernah mendengar istilah: menolak pemberian orang lain sama saja menolak rejeki? Soal urusan suka nggak suka atau apa itu belakangan saja, deh. Pokoknya terima saja dulu dan jangan lupa ucapkan terima kasih. Setidaknya kita harus menghargai niat baik seseorang bukan?

Ah, kayaknya aku mendapatan kode keras, nih, dari Tuhan dari pengalaman ini. Soalnya beberapa hari yang lalu, aku sempat berpikiran untuk mengembalikan barang pemberian man*an. 🙄🙄🙄

Punya pengalaman serupa? Cerita dong di kolom komentar. Atau, kalau kamu ada di posisiku, hal apa yang bakalan kamu lakukan?

Apa Kabar Resolusi 2019?

Beberapa hari yang lalu, seorang teman dari dunia maya menyapa lewat pesan Whatsapp. Seperti biasanya, kami saling menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing. Obrolan pun berlanjut saat ia bertanya apakah aku masih aktif membaca buku dan menulis ulasan buku? Tentu saja jawabannya… ya, begitulah. Di sini, di WordPress saja aku hilang tanpa kabar hingga dua bulan lamanya. Kalau baca buku, masih. Hanya saja, ulasannya nggak kutulis di blog. Entahlah, kalau dipikirin kok bikin pusing.

Beberapa bulan belakangan ini, mungkin bagi yang berteman sama aku di Instagram pasti tahu kegiatan baru yang tengah aku tekuni. Kalau kamu kepo banget boleh deh cek akun Instagram aku @ayusafistore. Di sana aku ada jual aneka hijab dengan harga yang menurutku relatif terjangkau dan nggak bikin kantong para cewek bolong. Gimana mau kepo, kamu orang sudah kasih bocoran.

Lalu, ada hal yang sebenarnya membuat aku sampai memaksakan diri menulis pagi ini. AKU INGAT SAMA RESOLUSI 2019 DAN INI SUDAH PERTENGAHAN BULAN MARET! (Kalau dibikin video, bagian kapital ini bagus dikasih efek bom kayaknya, hehehe, biar dramatis).

Sampai detik ini, aku baru menyelesaikan 7 buku kalau nggak salah. Sedangkan aku pasang target 80 buku. Mungkin nggak, sih, sampai akhir Desember nanti target bacaku tercukupi? Sedangkan waktu yang kupunya sekarang harus dibagi rata untuk ini dan itu? Ya, kita lihat saja nanti. 🤽‍♂️ Rasanya itu malu banget saat kita buat resolusi tapi nggak bisa ditepati, ibaratnya itu kayak makan upilnya Spongebob. Halu banget.

Aku juga merasa bersalah ( jangan ditiru adegan berbahaya!) soalnya penghuni blog ini antara ada dan tiada. Bagaimana mau jadi penulis kalau buat postingan saja malas? Oh, kayaknya aku nggak mau jadi penulis. Terus mau kamu apa?

Aku pengin bahagia, itu saja.

Lagian siapa sih di dunia ini yang nggak pengin bahagia? Sumpah, postingan kali ini benar-benar nggak layak buat dikonsumsi soalnya nggak ada gizi empat sehat lima sempurnanya.

Pokoknya, berhubung resolusi suat diikarkan, aku harus bisa mempertanggung jawabkannya. Nggak peduli sesibuk apa aku sekarang. Atau nggak peduli, seberapa malas aku sekarang. Resolusi harus tetap jalan… jalan di tempat. 🤾‍♂️Smash juga, nih, orang.

Sebenarnya ada poin penting yang berhasil kutangkap saat berbalas pesan dengan teman mayaku itu. Aku bilang padanya, “Kok nggak dari dulu, ya, aku jualan online. Malah sok sibuk pengin jadi penulis tapi kebayakan teori dan nggak nulis-nulis, hehehe.”

Lalu, temanku itu menjawab seperti ini. “Itulah namanya proses.”

Diam sejenak sambil merenung dalam-dalam aku bertanya-tanya, proses kehidupan itu benar-benar ajaib.

“Jadi masih mau nulis nggak?”

“Iyalah, nulis postingan dagang, hehe.”

Jangan berhenti mencari apa yang sejatinya adalah hal yang membuatmu bahagia saat melakukannya. Lakukan banyak hal, sampai akhirnya kamu punya beberapa hal saja yang insyaallah akan membesarkanmu di kemudian hari. -Dea Ayusafi

2019 Wajib Bayar Denda Baca 80 Buku! Eh, Kok Bisa?

Sumber gambar: Pixabay/ThoughtCatalog

Rasanya sudah lama sekali aku nggak menulis di blog. Entahlah, tahun kemarin benar-benar terlalu banyak hal pelik yang bikin aku malas ngapain-ngapain. Ya, meskipun demikian, semoga di 2019 ini segala hal yang ingin aku lakukan berjalan lancar. Aamiin.

Oh, iya, di kesempatan kali ini aku mau posting daftar buku apa saja yang aku baca di 2018. Setelah kuhitung pakai hidung, eh, jari maksudnya… ternyata oh ternyata ada 40 buku yang berhasil kubaca. Padahal… targetku tahun kemarin bisa kelar baca 50 buku. Yaa, kalau dipikir-pikir, bisa membaca 40 buku dalam satu tahun adalah hal yang membanggakan bagiku. Kalau diingat-ingat, 2018 cukup mengambil peran besar, sebab 2018 menjadi titik awal di mana aku lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca buku. Semoga di 2019 aku bisa membaca dan menulis lebih banyak di 2018. Aamiin. Berikut daftar buku yang kubaca:

1. Pangeran Bumi Kesatria Bulan karya Ary Nilandari
2. Perempuan Langit karya Dita Safitri
3. The Coffe Memory karya Riawani Eltya
4. Konstelasi Rindu karya Farah Hidayati
5. Cerpengram karya Peng Khen Sun
6. Peek a Boo, Love karya Sofi Meloni
7. Dari Timur karya Ama Achmad, dkk.
8. Cinta 4 Sisi karya Indah Hanaco
9. Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Z
10. Karma Cepat Datangnya karya Arimbi Bimoseno
11. Radio Galau FM Fans Stories karya Radio Galau FM
12. Summer In Seoul karya Ilana Tan
13. 3 Segi Cinta karya Boyke Abdillah
14. Bukan Salah Bintang Jatuh karya Aisha Yuliana
15. Seri Kiat Praktis Perencanaan Keuangan: Buka Usaha Nggak Kaya? Percuma! karya Safira Senduk
16. Dari Do It Menjadi Duit karya Trani Retno A dan Yanti Isa
17. Luka Dalam Bara karya Bernard Batubara
18. Lettie: Let’s Play Outside karya Hardi Lim
19. Re: karya Maman Suherman
20. Eleven Minutes karya Paulo Coelho
21. Creepy Case Club karya Rizal Iwan
22. Seira & Tongkat Lumimuut karya Anatasye Natanel
23. A Sinner karya Ria Amalia
24. Secangkir Kopi Tanpa Kafein karya Rose Kusumaning R
25. 45 Kesalahan Penulis Wattpad karya Neinilam Gita
26. Sederet Cerita Para Pencinta Buku karya Komunitas One Week One Book
27. Ruang Tengah karya Nulis Yuk
28. Titik Terendah karya Nulis Yuk
29. Hujan Bulan Juni karya Sapardi
30. Tentang Singgah karya Laditri
31. Dunia Maya karya SBC Surabaya
32. Runaway karya Keiza Evi Wiadji
33. Teman Tapi Musuh karya Eifel Dastin
34. The Rainbow karya Jesiccw Chandra
35. Forgive to Forget karya Daissy Ann
36. Di Tanah Lada karya Ziggy Z
37. Tips & Trik Mendapatkan Modal Usaha & Mengelolahnya karya Aqila Smart
38. Kota Kata Kita karya Gramedia Writing Project
39. Cinta Akhir Pekan karya Dadan Erlangga
40. Rooftop Buddies karya Honey Dee

Dan ya, ini tampak muluk soalnya di 2019 ini aku pasang target dua kali lipat dari jumlah buku yang kubaca di 2018. Sebenarnya ini termasuk dalam niat bayar hutang atau anggaplah sebagai hukuman karena nggak sampai target.

Jadi… di 2019 target baca yang harus aku selesaikan adalah 80 buku. Jika dibandingkan sama kawan-kawan lain, target 80 buku terbilang kecil. Ya… meskipun demikian, pokoknya aku mau baca dan menulis lebih banyak buku di 2019 ini. Semoga aku bisa konsisten dan rajin nulis di blog ini (sambil nyicil menulis resensi buku yang sudah kubaca di atas, yaaa semoga saja lancar).

Kalau kamu? Baca berapa buku 2018 kemarin? Dan berapa target bacamu tahun ini?