Menyabut Lebaran 2019

Marhaban teman-teman.

Kredit by Canva

Jam lima sore lewat 49 menit saat aku mulai mengetik tulisan ini. Hari ini adalah hari terakhir kita di bulan suci ramadhan. Sekaligus hari terakhir tantangan dari Blogger Perempuan. Aku ucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt. Karena ridhonya aku diberi kesehatan sehingga bisa menyelesaikan tantangan menulis selama 30 hari ini.

Pagi tadi, sekitar jam enam lewat ibu sudah bersiap untuk membuat ketupat. Aku menghampirinya di dapur. Ibu pun menyuruhku untuk membuat tutup dari daun pisang. Ceritanya dua bulan yang lalu, ibu minta dibelikan cetakan ketupat berbentuk persegi panjang. Kayaknya cetakan ketupat ini lagi trend di kalangan emak-emak. ๐Ÿ˜น Jadi, sebelum dimasukkan beras ke dalamnya, cetakan tersebut harus terlebih dahulu dilapisi daun pisang. Oleh karena itulah, aku kebagian jatah untuk membuat lapisan untuk tutupnya.

Selesai urusan ketupat, aku bergegas ke warung untuk mengambil beberapa barang serta sabun cuci baju. Ya, jadi ceritanya aku mengupas kentang, wortel, dan membersihkan sayur buncis sambil mencuci pakaian. Terima kasih mesin cuci, tercinta. ๐Ÿ’•

Selepas urusan di atas selesai, aku segera mengupas bawang merah dan putih (bawang putihnya lebih banyak soalnya sekalian untuk membaut cuka pempek). Nah, selanjutnya aku membersihkan cabai merah dan rawit. Cabai merah ntuk dibuat sambal dan masak rendang daging sapi. Sedangkan cabai rawit untuk membuat cuka pempek. Selanjutnya adalah menghaluskan bawang dan cabai menggunakan blender. Terima kasih blender, tercinta. ๐Ÿ’•

Bagian yang agak konyol ialah saat memotong sayur buncis dan wortel. Pada awalnya aku memotong wortel dengan ukuran sama seperti buncis. Akan tetapi, kok perasaan jelek, ya? Jadilah kupotong agak panjang dan malah mendapatkan kritik dari ibuku. Katanya begini, “Itu wortelnya kenapa besar-besar. Bukan mau bikin acar.”

Aku tertawa mendengarnya. Jadilah aku mengulang memotong sayuran berwarna orange itu menjadi dua bagian lagi dari potongan awal. Hahaha.

Saat menyambut lebaran aku sendiri merasa benar-benar repot. Banyak sekali yang harus dikerjakan. Mulai dari masak. Bersih-bersih. Memasukkan kue kering ke dalam toples. Belum menggosok baju untuk dipakai besok hari.

Puasa terakhir hari ini benar-benar tidak terasa. Tahu-tahu azan Zuhur, Ashar, dan Magrib.

Lepas dari segala kerepotan itu, aku sempat berpikir bagaimana bulan puasa yang akan datang? Hari raya yang akan datang? Akankah sama seperti sekarang? Saat aku bisa menikmati sahur dan berbuka puasa bersama keluarga. Menikmati setiap momen dengan keadaan sehat sentosa. Semoga ramadhan yang akan datang akan jauh lebih berarti dari ramadhan kali ini. Aamiin.

Rasanya benar-benar baru kemarin aku sahur pertama, berbuka puasa, dan menulis berbagai tantangan di bulan ramadhan. Tetapi sekarang? Semuanya sudah berlalu. Waktu tidak akan pernah kembali. Aku mendadak sedih, hehehe.

Meskipun rasa sedih kini tengah menyelimuti raga. Sebab bulan ramadhan telah berakhir. Aku berdoa, semoga segala amal ibadah kita semua di hari-hari lalu bisa menolong kita kelak di akhirat nanti. Aamiin.

Lebaran kini sudah di depan mata. Mari kita sambut dengan penuh suka cita. Bersihkan hati, mulai hari baru dengan semangat yang baru. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari lalu. Aamiin.

Untuk semua teman-teman yang selama ini sudah menyempatkan diri untuk membaca setiap tulisan dan meninggalkan jejak komentar di postingan-postinganku. Aku ucapkan banyak terima kasih. Mohon sekiranya dimaafkan apabila ada kata-kata yang disengaja maupun tak disengaja yang melukai hati.

Akhir kata, selamat hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.


Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke tiga puluh BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

Doa dan Harapan

Marhaban teman-teman.

Kredit by Canva

Rasa sedih menyelimuti diri pagi hari ini. Bagaimana tidak, ramadhan benar-benar akan pergi meninggalkan kita semua dalam hitungan dua hari. Sudah banyaklah amal baik yang kita perbuat di bulan suci kali ini? Apakah kita juga masih akan diberi kesempatan serta kesehatan untuk menikmati ramadhan yang akan datang?

Setiap manusia pasti mempunyai harapan dan doa dalam dirinya. Harapan yang ingin ia wujudkan. Serta doa, menjadi salah satu usaha yang dilakukan agar harapan tersebut mendapatkan ridho dari sang Pencipta.

Terlalu banyak harapan yang ada dalam diri ini. Barangkali, ada beberapa harapan yang bisa kutulis dan kubagi pada teman-teman semuanya demi memenuhi tantangan hari ke 29 di Blogger Perempuan.

1. Semoga lebih banyak amalan baik yang kulakukan selama bulan ramadhan kali ini.
2. Semoga aku bisa kembali berjumpa dengan ramadhan di tahun depan.
3. Semoga aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari kemarin setiap harinya.
4. Semoga aku masih bisa konsisten menulis meskipun Challenge dari Blogger Perempuan telah berakhir.
5. Semoga sehabis lebaran ini, usahaku semakin lancar jaya.
6. Semoga segala urusanku di tahun ini diberi kelancaran oleh Allah SWT.
7. Semoga tahun depan sahur dan buka puasa di rumah yang baru.
8. Semoga bagi kamu membaca tulisanku ini ikhlas untuk mengaminkan doa dan harapanku. Dan, semoga doa yang baik pula kembali padamu.
9. Semoga target membacaku bisa segera dilunasi.

Bicara soal harapan, sudah sangat jelas jika seharusnya kita hanya berharap pada Sang Pencipta. Bukan pada manusia yang kadanglah tak luput dari khilaf. Kita sering kali, terlalu berharap berlebihan pada manusia dan berakhir kecewa. Berharap pada Sang Pencipta tak akan membuat kita kecewa. Sebab, dia Maha Tahu hal-hal baik bagi diri kita.

Sehebat-hebatnya manusia berharap dalam menginginkan sesuatu hal. Ada satu hal yang selalu kuingat sampai saat ini, seseorang teman pernah berkata: bahwa Allah Swt lebih mengutamakan memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Jika apa yang kuharap tak sesuai harapanku, maka, aku hanya perlu berlapang dada. Yakin dan percaya, kasih sayang Allah Swt pada kita jauh lebih besar dari seseorang manusia yang mengaku mencintai kita.


Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh sembilan BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

4 Momen Terbaik di Ramadhan 2019

Marhaban teman-teman.

Kredit by Canva

Momen terbaik apa yang ada di ramadhanmu kali ini?

Kalau aku sendiri, kira-kira apa, ya?

Pertama, adalah momen aku bisa berkumpul dengan keluargaku dengan keadaan sehat. Bisa sahur bersama dan berbuka bersama mereka. Bisa masak menu buka puasa juga. Rasanya senang bisa menikmati bulan ramadhan tahun ini bersama keluarga.

Kedua, adalah momen di saat tiba-tiba ada seseorang yang mengirim pesan singkat di WhatsApp. Orang tersebut adalah perwakilan dari Google. Seseorang yang mengajakku untuk ikut seminar kewirausahaan Women Will. Nah, di sana aku berkenalan dengan banyak orang-orang keren. Mulai dari usia yang di bawahku dan di atasku. Rasanya tak bosan membahas soal bisnis dengan mereka.

Di sana juga aku bertemu dengan seseorang perempuan bercadar yang tanpa dia sadari membuatku termotivasi. Ceritanya dia dulu mempunyai usaha di Bandung. Berhubung menikah ia mau tak mau harus ikut suaminya yang bekerja di Palembang dan meninggalkan bisnisnya di Bandung sana. Akan tetapi, ia tidak diam saja di rumah. Ia memulai kembali bisnisnya dari nol. Menikah tidak menjadikan seorang perempuan berhenti berkreativitas.

Jujur, setiap kali aku melihat seseorang perempuan yang berpakaian syar’i, ada rasa iri yang melambung ke permukaan. Rasanya, aku juga pengin seperti mereka. Mengikuti sunnah Rasulullah dengan sangat baik. Kalau melihat seseorang perempuan yang mengumbar auratnya aku merasa sedih. Juga membuatku bertanya-tanya, kira-kira apakah aku sudah menjadi perempuan yang baik dalam menutup aurat? ๐Ÿ˜ฅ

Ketiga, adalah momen di saat aku berjumpa dengan seseorang yang sudah lama tak berjumpa. Pertemuan yang tidak pernah aku duga dan aku rencanakan sebelumnya. Pertemuan yang sedikit banyaknya, memperlihatkan dengan nyata, selagi manusia ada niat untuk mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Allah pasti memberikan jalan terbaik. Aku kok mendadak haru, ya. ๐Ÿ˜…

Keempat, adalah momen menulis setiap hari demi menyelesaikan tantangan dari Blogger Perempuan. Terkadang saking repotnya, suka ketiduran pada saat mengedit tulisan di malam hari. Apalagi menghadapi tema-tema yang bukan passion-ku. Belum lagi, rasa malas yang kadang-kadang menghantui. Akan tetapi, setiap kali melihat anak-anak Blogger Perempuan update tulisan rasanya pengin buruan menyelesaikan setoran tulisan. Memang, ya, ternyata yang namanya semangat itu bisa menular. ๐Ÿ˜„

Kayaknya hanya empat momen di atas yang bisa kutuliskan di sini. Saking banyak yang mau diceritakan, kadang jadi bingung mau mulai dari mana. Hmm, semoga yang membaca tulisanku tak bosan. ๐Ÿ˜น

Kamu sendiri, adakah momen terbaikmu di bulan ramadhan ini? Misalnya dilamar/ mau melamar seseorang lalu menikah bulan Syawal nanti. Kalau iya jangan lupa undangannya kirim lewat email. Nanti kadonya aku kirim juga lewat email. ๐Ÿ˜ธ


Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh delapan BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

Jajanan Lebaran, Beli atau Bikin Sendiri?

Marhaban teman-teman.

Kredit by Canva

Hari raya semakin dekat, sudah menginjak berapa persen persiapan kamu? Sudah beli jajanan buat lebaran? Atau kamu malah bikin sendiri?

Tidak hanya menjamu tamu yang datang bersilaturahmi dengan ketupat dan opor ayam. Jajanan lebaran sendiri sudah menjadi kebiasaan yang melekat di masyarakat. Tanpa kehadiran jajanan lebaran, rasanya kayak makan sayur kurang garam. Hehe, istilahnya jadul kali, ya.

Dulu, sewaktu masih kecil, ibu sering kali membuat sendiri jajanan lebaran seperti kue nastar, kue satu, kacang bawang goreng, kue kacang, dll. Kalau sekarang, berhubung ada tetangga kami yang menjual jajanan buat lebaran, ya, jadilah kami membeli jajanan tersebut darinya. Selain karrna didorong rasa tak enak kalau tak membeli jajannya dengannya. Hitung-hitung membantu rejeki tetangga. Betulkan?

Kalau aku, sih, jujur-jujuran sajalah nggak pernah yang namanya buat kue kering. ๐Ÿ˜น Soalnya aku nggak terlalu doyan makannya. ๐Ÿ˜น Kalau diajak buat rujak buah, aku pasti yang paling dulu duduk di depan. ๐Ÿ˜ป

Oh, iya, pernah suatu hari, aku diajak ibuku untuk memilih kue di rumah tetangga tersebut. Kalian tahu? Sumpah demi apa pun, aku kapok buat ikut. Soalnya semua jajanan yang ada tampak enak dan bikin lapar mata. Belum lagi tampilannya yang cantik-cantik serta berwarna-warni. Ah, sungguh, seandainya saja aku punya banyak uang. Kalau banyak memangnya mau ngapain? Ya, aku tabung dong, haha.๐Ÿ˜น

Kalau di tempatku, yang namanya jajanan lebaran pasti nggak laku kalau ada kehadiran pempek, tekwan, atau model. ๐Ÿ˜น

Entahlah, orang Palembang memang nggak ada bosan-bosannya makan yang namanya pempek. Aku pun salah satu golongan orang-orang yang tak bosan makan pempek. Berhubung aku nggak terlalu suka makan-makanan yang mengandung santan. Alhasil, bagiku pempek adalah makanan mewah saat hari raya tiba. ๐Ÿ˜ป Meskipun ada kue maksuba, kue lapis, kue engkak, aku tetap pilih pempek. ๐Ÿ˜ธ

Aku jadi ingat sama temanku. Jadi, kalau kami silahturahmi ke rumah dia. Bukan opor ayam, ketupat, dan segala macam jajanan Palembang saja yang dihadirkan. Tahukah apa? Gado-gado! Serius, jadi ibunya selalu buat gado-gado saat lebaran. Katanya sengaja, soalnya kalian pasti bosan, kan makan menu yang itu-itu saja? Secara tidak langsung idenya boleh juga, kan?

Nah, kamu sendiri bagaimana? Lebih suka beli atau buat sendiri jajanan buat lebaran?


Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh tujuh BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

Mengisi Waktu Ramadhanku

Marhaban teman-teman.

Kredit by Canva

Hari ke 26 di bulan suci ramadhan sekaligus hari terakhir di bulan Mei 2019. Waktu benar-benar berlalu begitu saja. Ngomong-ngomong, apa kabar puasa kalian hari ini?

Di kesempatan kali ini, aku mau menceritakan hal-hal apa saja yang kulakukan selama mengisi waktu di bulan ramadhan ini.

Jadi, pada awalnya aku kepengin kejar target baca selama bulan puasa ini. Eh, aku malah nggak sengaja lihat banner challenge 30 hari menulis puisi di Instagram. Tanpa pikir panjang dan dua kali, aku ikut serta meramaikan 30 hari menulis puisi itu. Pemahamanku soal puisi masih sedikit kali. Pokoknya yang kuingat, harus ada rimanya saja saat menulis puisi. Asli modal nekat. Alhamdulilah, puisiku terpilih menjadi salah satu kontributor. ๐Ÿ˜…

Kalian bisa membaca puisi receh yang kutulis di akun Instagramku @dea.ayusafi. Nah, bukan di situ saja, aku juga mengikuti challenge menulis yang diselenggarakan oleh akun @menulissetema, akan tetapi gara-gara sosmed sempat down beberapa waktu lalu. Aku tidak melanjutkan challenge menulis selama tiga puluh hari. Sayang memang untuk tidak dilanjuti. Tetapi ya, bagaimana? Bukan hanya faktor sok sibuk, melainkan semangatku yang mengendor.

Dan, yang paling tidak kusangka, sampai sekarang aku malaj mengikuti Challenge menulis yang diadakan oleh Blogger Perempuan. Dan ini adalah kali pertama aku ikut serta challenge di blogger Perempuan.

Belakangan ini gara-gara ikut challenge ini itu aku jadi mempunyai beberapa teman baru. Dan ya, rasanya juga senang bisa berkicau di blog ini setiap hari.

Selain itu, menjaga warung tetap menjadi kegiatan utama selama bulan ramadhan. Sama seperti bulan-bulan biasa yang telah lalu. Akan tetapi, pada hari Sabtu dan Minggu kemarin aku sempat mengikuti seminar kewirausahaan Women Will yang diadakan gratis di hotel Qatiqa Palembang. Gara-gara ikut seminar tersebut aku jadi mempunyai banyak teman baru yang satu profesi sepertiku. Rasanya seru banget bisa kumpul bareng dan mendengarkan pengisi acara berbagi pengalaman merintis usahanya. Sayang sekali, jika ingin mendapatkan ilmu lebih harus ikut seminar yang berikutnya. Aku sebenarnya asik-asik saja ikut seminar. Akan tetapi, jaraknya dari rumahku lumayan jauh juga. Lagipula, diriku ini tak pandai naik motor sendiri. Entahlah, aku agak trauma kalau bawa motor sendiri. Nyaliku langsung menciut.๐Ÿ˜…

Nah, di postingan sebelumnya aku sempat membahas soal buka bersama teman. Di bulan puasa kali ini, ajakan buka bersama datang dari teman SD dan teman SMA. Sayangnya, tidak ada kejelasan pasti hingga hari ini. Jadi, kayaknya tak ada acara buka puasa bersama teman yang mengisi ramadhan kali ini.๐Ÿ˜… Aku sih nggak terlalu peduli, toh, aku lebih respect sama teman-teman yang ajak kumpul di luar bulan puasa. Dan, kumpulnya juga bukan sekadar duduk bareng terus lomba main ponsel. Hehehe. Kalau begitu, ya, mending aku di warung sajalah. ๐Ÿคฃ

Jadi begitulah cerita singkat ramadhanku tahun ini. Selebihnya, akan aku ceritakan di kesempatan lain, jika diizinkan.

Catatan: seharusnya ini sudah diposting tadi malam, tetapi aku malah ketiduran. ๐Ÿ˜…


6 Tradisi Seru Saat Lebaran Tiba

Marhaban teman-teman.

Lebaran tiba, lebaran tiba, lebaran tiba. Sebentar lagi lebaran, sebentar lagi lebaran, sebentar lagi lebaran.

Foto by Canva
Foto by Canva

Tidak terasa sudah hari ke-25 di bulan ramadhan 1441 hijriah. Rasanya sedih mendapati bulan ramadhan akan segera berakhir. Bagaimana dengan kamu?
Ramadhan berlalu, hari raya segera mengantikannya. Hari raya disebut-sebut sebagai hari kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa selama bulan ramadhan. Di setiap daerah pasti mempunyai tradisi masing-masing menyambut dan merayakan hari raya Idul Fitri. Nah, berikut ini adalah beberapa tradisi lebaran yang aku dan keluargaku lakukan selama ini:

1. Mengantar Rantang
Di tempatku, ada kebiasaan mengantar Rantang kepada orang tua dari ibu dan ayah. Saudara-saudara ibu dan ayah. Tetangga samping kanan kiri. Biasanya mengantar rantang sering kali dimulai pada sore hari sebelum berbuka puasa sampai keesokan harinya sekalian silahturahmi. Isi rantangnya tentu saja masakan yang dimasak untuk hari raya. Misalnya opor ayam, sayur buncis, berbagai macam kue, agar, dll.

2. Shalat Idul Fitri
Kalau di tempatku, shalat Idul Fitri biasanya dimulai kisaran jam tujuh pagi sampai jam setengah delapan. Berbeda dengan shalat Idul Adha yang pasti dimulai pagi-pagi sekali. Soalnya sudah ada agenda kurban yang menanti. Saat shalat Idul Fitri, masih pasti tampak ramai. Apalagi di daerahku sekarang, bukan hanya penduduk asli saja yang ikut shalat melainkan juga para penduduk dagangan yang tinggal di perumahan. Ada juga, beberapa orang yang sampai rela pergi pagi-pagi selepas shalat subuh agar bisa shalat di masjid Agung Palembang.

Jujur saja, aku belum pernah shalat Idul Fitri di masjid tersebut. Selain karena jarak rumahku ke Masjid Agung yang bisa memakan waktu lebih dari satu jam. Jalan menuju ke sana pasti akan macet total, kecuali setelah shalat usai. Jalanan akan tampak sepi. Daripada tidak kebagian tempat dan harus shalat di jalan raya. Aku dan keluargaku lebih memilih shalat lebaran di masjid terdekat yang ada.

Setelah shalat usai, biasa saling bersalam-salaman dengan para jamaah lainnya. Kemudian dilanjut pulang ke rumah dan bersalaman dengan anggota keluarga. Berhubung rumah nenekku di depan rumah kami, maka tak ada istilah mudik dan sebagainya. Kami akhirnya berkumpul di sana sampai seluruh anggota keluarga berkumpul. Tak lupa menyantap ketupat dan opor ayam. Plus hidangan lainnya yang tak kalah nikmat.

3. Bersilaturahmi ke Rumah Tetangga
Kalau acara halalbihalal bersama anggota keluarga sudah selesai, itu tandanya untuk segera mendatangi rumahnya tetangga. Biasanya anak kecil yang paling bersemangat untuk ikut berkunjung ke rumah tetangga. Hayo tebak kenapa? Ya, karena mereka mengharapkan THR turun. Meskipun dikasih 2000 sekali pun, mereka sudah sangat senang.

4. Bersilaturahmi ke Rumah Teman
Nah, tak jarang ada loh beberapa temanku yang sampai sekarang kompak banget jalan-jalan ke rumah teman-teman semasa sekolahnya dulu. Termasuk berkunjung ke rumahku. Istilahnya, saling jemput. Nanti kalau sudah ke rumah aku, aku baru akan ikut mereka ke rumah teman-teman yang lainnya. Terus seperti itu pokoknya. Kebiasaan ini paling seru dilakukan sewaktu aku masih zaman SMA, soalnya nggak ada istilah menjaga image. Masih apa adanya. Kalau sekarang? Makan banyak bukannya takut gemuk, tetapi takut dikatain rakus! ๐Ÿ˜ฅ

5. Bersilaturahmi ke Rumah Keluarga Sebelah Ayah dan Ibu
Selain bersilaturahmi ke rumah tetangga, teman, bersilaturahmi ke rumah para om dan tante pun tidak boleh ketinggalan. Meskipun sebelumnya sudah bertemu di rumah nenek, bukan berarti tak boleh datang berkunjung ke rumahnya. Kadang kala, THR buat anak-anak kecil nggak akan turun kalau kamu nggak datang langsung ke rumahnya.

6. Jalan-Jalan
Biasanya libur lebaran itu bisa beberapa hari, ya. Mungkin ada sebagian orang yang menikmati waktu liburnya dengan bermalas-malasan di rumah. Ada juga yang memilih untuk jalan-jalan. Tentu saja, saat hari raya, mall dan pusat perbelanjaan bukannya sepi tetapi semakin ramai! Kira-kira lebaran kali ini ada yang ajak aku jalan-jalan nggak, ya? ๐Ÿ˜“๐Ÿ˜”

Oke, teman-teman, begitulah sedikit cerita tradisi lebaran di tempatku. Nah, bagaimana di tempat tinggalmu? Adakah tradisi unik saat hari raya tiba? Tulis, ya, di kolom komentar.


Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh lima BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

Yakin Butuh Baju Lebaran Baru?

Seperti hari-hari biasanya, selepas berbuka puasa tidak ada hal yang dilakukan Rizky kecuali menonton televisi atau bermain petasan bersama sepupunya di halaman depan rumah sang nenek. Rizky masih duduk di kelas 4 SD. Badannya tinggi agak berisi. Ia anak dari tiga bersaudara. Tanpa pernah Rizky duga, malam itu sang ibu mengajaknya ke salah satu toko serba ada di kota Palembang. Ternyata, keluarga tante dan omnya juga ikut pergi ke sana.

Saat sampai di toko tersebut, Rizky dan sang ibu mulai berkeliling melihat-lihat barisan sepatu yang dipajang rapi di lantai satu. Mereka kemudian berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua. Suasana ramai membuat udara di dalam sana terasa pengap. Meskipun begitu, tidak mengurangi rasa mengebu di hati Rizky.

“Ini kayaknya bagus, Dek,” kata si ibu sambil menurunkan kemeja levis dari tempat pajangannya.

“Berapa harganya?” tanya Rizky antusias.

Ibu pun membolak-balikkan kertas label mencari keberadaan harga. Dan tampaklah harga kemeja tersebut Rp. 99.000 ribu. “Harganya 99 ribu, Dek. Kamu mau?”

“Nggak usah, Bu. Mahal.” Begitu komentar spontan Rizky saat mendengar ibu menyebutkan harganya. Spontan juga mengundang tawa sekaligus rasa kagum.

“Kenapa nggak mau?”

“Mahal, Bu. Nggak usah, kan, sudah ada baju muslim juga.”

“Kamu benaran nggak mau, nih?”

Rizky mengulas senyum lalu tampak malu-malu. “Mau, sih.”

Tanpa pikir panjang, ibu membelikan baju tersebut untuk anak bungsunya. Hitung-hitung bonus sudah berpuasa dan semangat untuk menyelesaikan puasa di hari-hari terakhir.

Selesai.

Sebenarnya cerita di atas adalah sepenggal pengalaman beberapa hari yang lalu. Aku nggak habis pikir saat ibuku bercerita saat hendak membeli baju. Kok bisa adikku itu bicara seperti itu? Biasanya, kan, kebanyakan anak kecil tidak peduli soal harga barang yang ia inginkan. Mau murah atau mahal, ia tidak peduli, pokoknya dia mau apa yang dia inginkan terwujud.

Selama bulan puasa ini, adikku tidak ada bilang mau beli baju lebaran. Malah ia hanya membahas soal THR saja ๐Ÿ˜‚. Jadilah aku sama ibu cari-cari baju koko di Shopee. Sebenarnya, bisa saja mencari di pasar atau di tempat lain. Namun, ibu berkata malas untuk ke luar. Biasanya niat dari awal beli apa pas pulang banyak barang yang dibeli hanya karena lapar mata. Harganya juga lebih terjangkau belanja online, selain karena nggak pakai modal transportasi dan lapar mata. Selain itu juga fokus hanya pada satu tujuan utama. Plus cukup duduk manis di rumah menanti paket tiba.

Aku sendiri, tidak begitu antusias ingin membeli baju lebaran. Aku hanya membeli beberapa potong celana baggy pants serta beberapa potong baju tunik (nggak antusias kok beli, sih, Neng? ๐Ÿ˜‚ Sebenarnya aku paling jarang yang namanya belanja pakaian, berhubung aku sudah lama pengin beli celana dan baju tunik itu, jadilah aku beli sekarang).

Nah, sebenarnya aku, tuh, pengin kali membeli baju gamis muslimah yang cantik-cantik luar biasa. Akan tetapi, ukurannya selalu saja tidak pas denganku ( susah menjadi ukuran PJ 145 cm). Daripada aku pakai baju gamis yang gantung dan mengundang komentar orang-orang terhadap penampilanku. Maka sudah kuputuskan, aku tak ingin membuang tenaga orang untuk mengkritik pakaianku yang “gantung” itu. Kadang kala, aku sempat merasa iri pada perempuan-perempuan yang memiliki tinggi badan paling sekitar 160-165 cm. Soalnya paling mudah cari yang namanya gamis. ๐Ÿ˜…

Kembali pada pokok pembahasan utama. Bicara soal baju lebaran, kalau memang masih ada baju yang lama dan masih tampak bagus kenapa harus beli baju yang baru? (Ini kok kayak lirik lagu~)

Toh, Allah swt. nggak menilai amal ibadah seseorang di bulan ramadhan dengan melihat apakah orang tersebut berpakaian baru atau lama. Yang penting, enak dipandang dan bersih. Setuju?

Alhamdulilah juga, Allah swt. memberi rejeki sehingga kami bisa membeli beberapa potong baju untuk adik-adikku. Dan beberapa baju baru untuk dipakai selepas hari raya. Semoga kita semua berjaya pada hari raya meskipun tanpa ada baju lebaran baru yang menghiasi raga. Aamiin.

Oke, sekian tulisan absurd ini. Kayaknya makin ke sini, nilai faedah tulisanku makin menurun. Semoga hanya perasaanku saja ๐Ÿ˜‚. Tapi kalau memang iya, ya, sudahlah, seperti motto dalam hidupku: menulis adalah proses meninggalkan sejarah. Setidaknya, tulisan ini adalah bukti nyata kalau aku pernah menulis seabsurd ini. ๐Ÿ˜‚

Sampai jumpa di tulisanku berikutnya!


Terima kasih banyak untuk kamu yang sudah mampir dan membaca tulisan ini.

Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh empat BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

Buka Puasa Sama Teman? Nggak Deh…

Marhaban teman-teman.

Apa kabar puasa kalian hari ini? Ngomong-ngomong dalam beberapa hari terakhir, sudah berapa kali kalian menghadiri acara buka bersama teman? Entah itu buka bersama rekan kerja, teman SD, teman SMP, teman SMA, atau mantan?

Seumur hidupku ini, aku belum pernah menghadiri acara buka bersama sekaligus reunian bersama teman SMA. Sebenarnya bukan tanpa alasan, faktor yang paling tidak memungkinkan ialah aku sedang dalam keadaan bekerja.

Ada sebuah pengalaman cukup miris bagiku, yakni terjadi pada tahun 2017 kalau. Saat itu aku masih bekerja menjadi seorang SPG. Masuk kerja jam 9 pagi dan pulang jam 5 sore. Saat itu, teman-teman SMA-ku sudah sibuk mengatur rencana di grup WhatsApp. Mulai dari tanggal berapa mau buka bersama. Memilih tempat nongkrongnya. Plus siapa saja yang bakalan ikut.

Singkat cerita pada hari itu, aku telat datang dan mereka sudah bubar dari tempat makan. Soalnya jarak tempat janjian dari rumahku terbilang bisa memakan waktu kurang lebih satu jam. Belum ditambah bonus macet. Kurang-kurang, hujan turun! Terpaksa aku berteduh di depan ruko. Azan Magrib pun berkumandang. Grup WhatsApp pun mulai ramai akan foto-foto mereka yang tengah bersiap menyantap makanan. Sedangkan aku masih setia menanti hujan reda. Ditemani rasa dahaga yang tidak bisa diajak kompromi.

Saat sampai di mall, aku hanya bertemu dengan satu temanku yang kebetulan memang bekerja di sana. Kalau diingat-ingat, rasanya agak sedih. Sudah bela-belain pulang kerja langsung bergegas bersiap, eh, malah nggak ketemu sama mereka. ๐Ÿ˜‚

Nah, barusan grup yang mati suri itu kini ramai kayak pasar. Aku nggak ikut diskusi. Pokoknya chat di grup itu pun dengan sekejap menjadi beratus-ratus chat.

Entahlah, aku lebih suka kumpul buka puasa bareng keluarga daripada sama teman-teman yang hanya timbul ke permukaan saat acara reunian dalam kedok buka puasa bersama. Kalau memang mau menjalin silaturahmi kenapa harus menunggu bulan puasa? Hm.

Kamu sendiri bagaimana?


Terima kasih banyak untuk kamu yang sudah mampir dan membaca tulisan ini.

Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh tiga BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

Make Up Saat Lebaran, Penting Nggak Sih?

Marhaban teman-teman.

Benar-benar tinggal menghitung hari, ya. Tidak terasa sebentar lagi bulan suci ini akan segera berakhir. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada agenda mudik dan sebagainya. Nah, aku mau tanya, nih, sama teman-teman, menurut kalian make up saat hari raya itu penting nggak, sih?

Aku sendiri kalau boleh jujur adalah tipe perempuan yang agak malas dandan total. Sehari-hari saja, kadang hanya memakai krim wajah dan lip cream. Kalau hendak jalan-jalan atau kondangan barulah alat-alat make up yang jarang disentuh itu akan ada manfaatnya ๐Ÿ˜‚. Jujur, kadang-kadang aku pengin, deh, dandan minimalis kayak beauty blogger, akan tetapi kayaknya itu bukan aku banget. Haha.

Sama halnya dengan hari raya, kayaknya aku nggak akan dandan yang wah banget. Lagian buat apa dandan cantik-cantik kalau hanya sekadar mengharapkan pujian dari manusia yang tak ada ikatan pasti?

Oleh karena itulah, paling-paling aku pakai bedak tipis dan lip cream, plus menggoreskan pensil alis sedemikian rupa, haha. Ngomong-ngomong alisku ini kaku banget, tipe alis yang nggak ada bentuknya (ini apalah ya bahasanya absrurd kali).

Tetapi menurutku dandan itu penting nggak penting, sih, lebih ke apa, ya. Pernah nggak kalian melihat seseorang cewek nggak dandan tapi cantik? Natural? Enak dipandang? Nggak bikin bosen? Nah, aku penginnya jadi salah satu cewek yang seperti itu, hahaha. ๐Ÿ˜‚ Asal jangan sampai wajahnya kusut ditekuk kayak baju belum disetrika, saja, kayaknya cukup, deh. Lagipula aku percaya, bahwa kecantikan yang berasal dari hati akan terpancar mencerahkan wajah (dalam sekali bahasanya ๐Ÿ˜).

Kalau soal produk make-up sendiri, aku nggak jago-jago amat membedakannya. Banyak banget, deh, kayaknya. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜‚ Yang namanya kuas saja bisa ada beberapa macam! Untuk ini dan itu. Kalau mau tampil cantik ala boneka Barbie mending aku langsung ke salon saja๐Ÿ˜‚.

Memangnya hari raya ada salon yang buka? Lah, yang mau dandan di hari raya siapa? Kalau sampai ada yang ke salon buat dandan di hari raya kayaknya agak berlebih seorangan menurutku.

Nah, dilansir dari muslimah.or.id tidak diperbolehkan pula bagi seorang perempuan untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam, yaitu:

  • Menyambung rambut (al-washl)Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAllah melaknat penyambung rambut dan orang yang minta disambung rambutnya.โ€ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Menato tubuh (al-wasim), mencukur alis (an-namsh), dan mengikir gigi (at-taflij)Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAllah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.โ€ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Mengenakan wewangian bukan untuk suaminya (ketika keluar rumah)Baginda nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œSetiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.โ€ (Riwayat Ahmad, an-Nasaโ€™i, dan al-Hakim dari jalan Abu Musa al-Asyโ€˜ari radhiyallahu โ€˜anhu)
  • Memanjangkan kukuNabi kita shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œYang termasuk fitrah manusia itu ada lima (yaitu): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.โ€ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  • Berhias menyerupai kaum lelakiโ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupakan diri seperti wanita dan melaknat wanita yang menyerupakan diri seperti laki-laki.โ€ (Riwayat Bukhari). Hadits ini dinilai shahih oleh at-Tirmidzi.

Nah, wahai kaum Adam, kalian lebih suka melihat perempuan yang biasa saja dalam berhiasnya atau yang mampu menarik perhatian?

Buat kaum Hawa, adakah tips khusus bagimu untuk make-up saat hari lebaran nanti?

Sebaik-baiknya seorang manusia adalah dia yang tidak melebihkan kehidupannya untuk hal sia-sia. Semoga postingan ini ada faedahnya.


Terima kasih banyak untuk kamu yang sudah mampir dan membaca tulisan ini.

Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh dua BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.