Yakin Butuh Baju Lebaran Baru?

Seperti hari-hari biasanya, selepas berbuka puasa tidak ada hal yang dilakukan Rizky kecuali menonton televisi atau bermain petasan bersama sepupunya di halaman depan rumah sang nenek. Rizky masih duduk di kelas 4 SD. Badannya tinggi agak berisi. Ia anak dari tiga bersaudara. Tanpa pernah Rizky duga, malam itu sang ibu mengajaknya ke salah satu toko serba ada di kota Palembang. Ternyata, keluarga tante dan omnya juga ikut pergi ke sana.

Saat sampai di toko tersebut, Rizky dan sang ibu mulai berkeliling melihat-lihat barisan sepatu yang dipajang rapi di lantai satu. Mereka kemudian berjalan menaiki anak tangga ke lantai dua. Suasana ramai membuat udara di dalam sana terasa pengap. Meskipun begitu, tidak mengurangi rasa mengebu di hati Rizky.

“Ini kayaknya bagus, Dek,” kata si ibu sambil menurunkan kemeja levis dari tempat pajangannya.

“Berapa harganya?” tanya Rizky antusias.

Ibu pun membolak-balikkan kertas label mencari keberadaan harga. Dan tampaklah harga kemeja tersebut Rp. 99.000 ribu. “Harganya 99 ribu, Dek. Kamu mau?”

“Nggak usah, Bu. Mahal.” Begitu komentar spontan Rizky saat mendengar ibu menyebutkan harganya. Spontan juga mengundang tawa sekaligus rasa kagum.

“Kenapa nggak mau?”

“Mahal, Bu. Nggak usah, kan, sudah ada baju muslim juga.”

“Kamu benaran nggak mau, nih?”

Rizky mengulas senyum lalu tampak malu-malu. “Mau, sih.”

Tanpa pikir panjang, ibu membelikan baju tersebut untuk anak bungsunya. Hitung-hitung bonus sudah berpuasa dan semangat untuk menyelesaikan puasa di hari-hari terakhir.

Selesai.

Sebenarnya cerita di atas adalah sepenggal pengalaman beberapa hari yang lalu. Aku nggak habis pikir saat ibuku bercerita saat hendak membeli baju. Kok bisa adikku itu bicara seperti itu? Biasanya, kan, kebanyakan anak kecil tidak peduli soal harga barang yang ia inginkan. Mau murah atau mahal, ia tidak peduli, pokoknya dia mau apa yang dia inginkan terwujud.

Selama bulan puasa ini, adikku tidak ada bilang mau beli baju lebaran. Malah ia hanya membahas soal THR saja πŸ˜‚. Jadilah aku sama ibu cari-cari baju koko di Shopee. Sebenarnya, bisa saja mencari di pasar atau di tempat lain. Namun, ibu berkata malas untuk ke luar. Biasanya niat dari awal beli apa pas pulang banyak barang yang dibeli hanya karena lapar mata. Harganya juga lebih terjangkau belanja online, selain karena nggak pakai modal transportasi dan lapar mata. Selain itu juga fokus hanya pada satu tujuan utama. Plus cukup duduk manis di rumah menanti paket tiba.

Aku sendiri, tidak begitu antusias ingin membeli baju lebaran. Aku hanya membeli beberapa potong celana baggy pants serta beberapa potong baju tunik (nggak antusias kok beli, sih, Neng? πŸ˜‚ Sebenarnya aku paling jarang yang namanya belanja pakaian, berhubung aku sudah lama pengin beli celana dan baju tunik itu, jadilah aku beli sekarang).

Nah, sebenarnya aku, tuh, pengin kali membeli baju gamis muslimah yang cantik-cantik luar biasa. Akan tetapi, ukurannya selalu saja tidak pas denganku ( susah menjadi ukuran PJ 145 cm). Daripada aku pakai baju gamis yang gantung dan mengundang komentar orang-orang terhadap penampilanku. Maka sudah kuputuskan, aku tak ingin membuang tenaga orang untuk mengkritik pakaianku yang “gantung” itu. Kadang kala, aku sempat merasa iri pada perempuan-perempuan yang memiliki tinggi badan paling sekitar 160-165 cm. Soalnya paling mudah cari yang namanya gamis. πŸ˜…

Kembali pada pokok pembahasan utama. Bicara soal baju lebaran, kalau memang masih ada baju yang lama dan masih tampak bagus kenapa harus beli baju yang baru? (Ini kok kayak lirik lagu~)

Toh, Allah swt. nggak menilai amal ibadah seseorang di bulan ramadhan dengan melihat apakah orang tersebut berpakaian baru atau lama. Yang penting, enak dipandang dan bersih. Setuju?

Alhamdulilah juga, Allah swt. memberi rejeki sehingga kami bisa membeli beberapa potong baju untuk adik-adikku. Dan beberapa baju baru untuk dipakai selepas hari raya. Semoga kita semua berjaya pada hari raya meskipun tanpa ada baju lebaran baru yang menghiasi raga. Aamiin.

Oke, sekian tulisan absurd ini. Kayaknya makin ke sini, nilai faedah tulisanku makin menurun. Semoga hanya perasaanku saja πŸ˜‚. Tapi kalau memang iya, ya, sudahlah, seperti motto dalam hidupku: menulis adalah proses meninggalkan sejarah. Setidaknya, tulisan ini adalah bukti nyata kalau aku pernah menulis seabsurd ini. πŸ˜‚

Sampai jumpa di tulisanku berikutnya!


Terima kasih banyak untuk kamu yang sudah mampir dan membaca tulisan ini.

Tulisan ini aku ikut sertakan dalam hari ke dua puluh empat BPN30 Day Ramadhan Blog Challenge yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan.

9 respons untuk β€˜Yakin Butuh Baju Lebaran Baru?’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s