Mengembalikan Pemberian Orang Lain, Tega Nggak Sih?

Asalamualaikum, teman-teman. Selamat malam.

Di postingan kali ini aku mau bercerita sedikit soal pengalaman kemarin lusa. Sebenarnya ini bukan suatu pengalaman yang menarik dan menyenangkan. Meskipun demikian, kayaknya pengalaman satu ini nggak ada salahnya buat kubagi sama kalian. Kali saja ada di antara kalian yang punya pengalaman sama sepertiku, dan kita bisa bertukar pendapat.

Jadi, begini ceritanya. Kemarin lusa ada seseorang yang mengembalikan barang pemberianku. Awalnya aku kaget, apalagi mendengar alasannya karena “malas memakainya”. Berhubung aku nggak mau cari masalah, ya, aku diam saja. Aku berusaha sebisa mungkin untuk berpikir positif: mungkin orang itu dari awal memang nggak butuh.

Tapi, teman-teman, yang buat aku agak sedih kenapa baru dikembalikan sekarang? Kenapa nggak ditolak saja pada saat aku memberikan barang tersebut? Toh, kayaknya itu jauh lebih manusiawi menurutku daripada disimpan lalu dikembalikan? Atau, berikan pada orang lain saja? Duh, memang buat pusing sendiri kalau memikirkan hal-hal yang seharusnya nggak perlu kita pikirkan.

Kalau ada yang bertanya padaku bagaimana rasanya saat kamu memberi seseorang suatu barang dengan ikhlas tapi malah dikembalikan?

Jawabannya adalah serba salah. Mau marah, aku takut kalau ujung-ujungnya bakalan jadi masalah sama oramg tersebut. Hanya saja rasanya itu nggak enak. Seolah-olah nggak menghargai pemberian orang (maafkan pikiran kotor ini yang entah mengapa tiba-tiba melintas di kepalaku).

Gara-gara pengalaman ini pula aku jadi berpikir bagaimana jika seandainya aku yang berada di posisi orang tersebut.

Bagiku apa yang datang dalam kehidupanku adalah rejeki, apalagi itu hal baik. Suka nggak suka, barang tersebut pasti aku terima. Meskipun nggak kupakai, pasti akan kusimpan dalam lemari, hehe. Lagian, aku suka dikasih hadiah tapi nggak ada yang kasih 🀣(kodekeras.com).

Teman-teman, pernah mendengar istilah: menolak pemberian orang lain sama saja menolak rejeki? Soal urusan suka nggak suka atau apa itu belakangan saja, deh. Pokoknya terima saja dulu dan jangan lupa ucapkan terima kasih. Setidaknya kita harus menghargai niat baik seseorang bukan?

Ah, kayaknya aku mendapatan kode keras, nih, dari Tuhan dari pengalaman ini. Soalnya beberapa hari yang lalu, aku sempat berpikiran untuk mengembalikan barang pemberian man*an. πŸ™„πŸ™„πŸ™„

Punya pengalaman serupa? Cerita dong di kolom komentar. Atau, kalau kamu ada di posisiku, hal apa yang bakalan kamu lakukan?

17 respons untuk β€˜Mengembalikan Pemberian Orang Lain, Tega Nggak Sih?’

      1. Kemarin itu aku bukan kasih baju, Kak. Tapi kasih jilbab. Itu di postingan ada kubuat alasannya. πŸ˜… Ya, mungkin dia nggak suka sama modelnya, kalau memang nggak suka kenapa nggak bilang, kan, bisa tukar sama model lain. (Edisinya aku jualan jilbab di sini. πŸ˜…)

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s