Resensi Buku Titik Terendah Karya Nulis Yuk

Judul: Titik Terendah
Penulis: Nulis Yuk
ISBN: 978-602-52277-3-8
Penerbit: Motivaks Inspira
Jumlah halaman: 309 halaman
Periode baca: 22 November 2018
Rating buku: 3, 5 🌟

Setelah membaca buku ini, saya semakin yakin bahwa berada di titik terendah bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awalan. Banyak hal tak terduga yang bisa didapatkan saat berada di titik terendah, salah satunya semakin paham tentang hakikat hidup ini.
Saya yakin buku ini bisa membuat kamu lebih mudah untuk bersyukur, meskipun saat berada di titik terensah, Insyaallah. – Jee Luvina-Penulis dan founder @nulisyuk.

Saya yakin buku ini bisa membuat kamu lebih mudah untuk bersyukur, meskipun saat berada di titik terensah, Insyaallah. – Jee Luvina-Penulis dan founder @nulisyuk.

Menurutmu titik terendah dalam hidup itu apa sih? Kita semua pasti pernah merasakan bagaimana berada di titik terendah dalam hidup. Lalu, bagaimana cara menyikapinya? Berputus asa? Atau berusaha bangkit menembus tembok titik terendah tersebut.

Kalau boleh jujur aku suka sama kover buku ini. Empat jempol desain sampul yang keren ini. Warna hitam seolah menggambarkan bahwa berada di titik terendah itu adalah sebuah momok menakutkan bagi semua orang.

Namun, pada kenyataannya, tidak semua orang yang berada di titik terendah benar-benar merasa ketakutan, malah mereka menjadi sosok yang lebih kuat dan tabah menjalani hidup. Yang paling menarik perhatianku adalah penulisan judulnya yang terpisah TITIK-TER-END-AH, kalau dilihat di antara pemenggalan judul tersebut terdapat kata “END” (akhir). Lantas, apakah benar Titik Terendah merupakan akhir dari segalanya?

Dalam buku ini terdapat 59 cerita yang membuatku merasa gundah gelisah, sedih, dan juga merasa harus bersyukur lebih dan lebih lagi atas kehidupan yang kupunya saat ini.

Kisah dalam buku ini benar-benar terasa begitu nyata, seolah-olah aku yang tengah menjadi tokoh utama. Bicara soal jatuh dan bangun memang tidak ada habisnya. Banyak sekali pelajaran beharga yang bisa dipetik dari kisah yang disajikan dalam buku ini. Bukan hanya bicara soal titik terendah dalam hidup. Dalam buku ini juga, banyak sekali kutemui perjuangan jatuh bangun yang dilakukan demi mengapai impian, tak jarang perjuangan itu lebih sering mengalami kegagalan. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk mereka terus memperjuangkan impiannya.

Selain itu, buku ini pun bisa dijadikan cermin secara tidak langsung bagi siapa saja yang mungkin menganggap hidupnya paling menderita di dunia ini, paling merana seolah dunia tidak berpihak padanya. Oh, iya, berhubung ini bukan novel, kita bisa membaca secara acak cerita dalam buku ini.

Bicara soal kekurangan aku sempat menemukan tipo serta ada penggunakan kata depan, -nya, yang tak beraturan, sangat disayangkan sekali memang. Meskipun begitu, aku tetap suka buku ini. Selain karena gaya bahasanya mudah dipahami. Cerita dalam buku ini sangat cocok dinikmati di saat santai pun benar-benar cocok dijadikan sebagai bahan renungan. Suatu kesempatan yang sangat berharga bisa membaca buku ini, terima kasih Kak @jihanmw.

“Begitulah pilihan. Kadang saya menyesal, andai saya bisa bertahan lebih lama. Tapi justru kalimat andai itu sendiri yang tak kunjung menyembuhkan luka.” Halaman 86, Kebahagiaan Setelah Jatuh.

“Ada satu hal yang membuatku tersadar, bahwa tidak semua orang bisa menerima sebuah perpisahan, tentang datang dan pergi, dan tentang pedihnya ditinggalkan.” Halaman 264, Aku dan H-1.

“Aku sangat mengerti, berteman seperti menyambung nyawa diri sendiri. Tak ada yang bisa menyambung nyawa untuk psikis kecuali diri kita sendiri.” Halaman 110, Apa? Aku Psikopat?

“Ternyata setiap apa yang terjadi memiliki aeti, termasuk sebuah kehilangan. Bahkan hal yang paling menyakitkan pun selalu menyiman hikmah di baliknya.” Halaman 194, Arti Sebuah Kehilangan.

“Kita bisa memilih untuk ikut larut menjadi jiwa-jiwa yang rusuh, atau justru menjadi jiwa yang tenang, teguh pendirian, dan membawa perubahan pada kebaikan.” Halaman 260, Merengkuh Ridho-Nya.

“Jangan takut gagal, karena kegagalan akan mengajarkanmu makna berjuang. Janhan takut gagal, karena kegagalan akan mengajarkanmu tentang arti kesyukuran.” Halaman 273, Berteman Dengan Kegagalan.

“Aku belajar mengurangi kecepatan langkahlu, mencoba tak terlalu terburu dan memburu. Mensyukuri tiap peristiwa, memahami waktu untuk dibikmati bukan sekadar dilewati.” Halaman 288, My Life, My Choice.

Ayo semuanya mari semangat berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk menggapai impian. Aamiin.

Iklan

2 respons untuk ‘Resensi Buku Titik Terendah Karya Nulis Yuk

  1. dwi bambang irianto 12 Januari 2019 / 6:24 pm

    Dalam menyikapi persoalan pada titik rendah, harus berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, memaafkan mereka yang telah membuat hidupmu terpuruk dan juga memaafkan dirimu sendiri jika kamu berbuat salah kepada mereka.
    Ikhlaskan saja…karena sebaik apapun Anda mereka akan tetap berbuat buruk terhadap Anda. Satu hal yang paling tidak boleh dilupakan…
    Bersyukur serta tidak membandingkan kehidupan anda dengan orang lain.
    Anda mungkin ingin memiliki atau merasakan kenikmatan yang dimiliki orang lain. Namun bukankah rezeki setiap orang beda-beda ?

    Suka

    • Dea Ayusafi 12 Januari 2019 / 7:11 pm

      Wah, benar sekali. Rezeki setiap orang berbeda-beda. Kita juga nggak bisa memaksa semua orang agar bersikap baik pada kita. Harus pandai bersyukur agar bahagia. 😉

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s