Resensi Buku Seira & Tongkat Lumimuut Karya Anastasye Natanel

Judul: Seira & Tongkat Lumimuut
Penulis: Anastasye Natanel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2018
Jumlah halaman: 248 halaman
ISBN: 978-6020-3876-73
Periode baca: 29 November 2018
Rating: 4🌟

Begitu sembuh dari sakitnya, Seira merasakan perubahan pada dirinya. Dia mendapati ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak bertemu perempuan aneh dalam mimpinya.

Menjadi sehat secara mendadak dan kemunculan orang-orang asing di sekitarnya menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya: pertama, dua anak kembar di kampusnya, Mikaela dan Manasye, yang tiba-tiba menjadi sahabatnya; kedua, Siow Kurur, laki-laki tampan yang mengaku sebagai pelindungnya; ketiga, kumpulan orang yang mengenakan pakaian ala penari Kabasaran yang datang memburunya.

Bukan hanya itu, Papa juga tampak bersikap aneh. Bahkan Giddy, teman kecil Seira yang ia kenal luar-dalam, rupanya menyembunyikan rahasia besar darinya. Hidup Seira telah berubah, ia bukan lagi manusia biasa.

Halo, siapa yang suka baca buku dengan tema mitologi fantasi? Kali ini aku bakalan mengulas buku Kak Anastasye dengan judul Seira & Tongkat Lumimuut. Dalam buku ini Kak Anastasye mengangkat kisah dan budaya Minahasa secara ringan dan menyenangkan. Sedikit info bahwa buku ini berhasil menjadi juara harapan 2 dalam Gramedia Writing Project.

“Apa yang terjadi?”

“Sialan. Jadi karena alasan ini, aku dipanggil?!” Pemuda ini tak kalah terkejutnya denganku.

“Kau baru saja kehilangan satu orang dari kelompok Makarua Siow.”

Seperti info yang ada dalam deskripsi buku ini bahwa setelah Seira sembuh dari sakitnya ia mengalami perubahan dalam hidupnya. Benar saja, kehidupannya memang benar-benar berubah 360 derajat.

Membaca buku ini membuatku jadi teringat dengan film india yang judulnya Koi Mil Gaya, soalnya tokoh utamanya sama-sama sembuh dari penyakit yang mereka derita. Bedanya, dalam film Koi Mil Gaya tokoh utamanya berteman dengan alien.

Nah, di sini Seira berteman dengan makhluk, ehm, mitologi? Ehm, enaknya sebut apa, ya? Ada yang bisa bantu?

“Bagaimana bisa kalian mengubah suasana hati dengan cepat?”

“Kami berduka saat di rumah duka. Sekarang juga masih. But life goes on, Seira. Kesedihan hanya membuatmu terpuruk.”

Mari mengenal karakter dalam buku ini. Dalam buku ini kamu akan berkenalan dengan sosok Seira perempuan delapan belas tahun yang menurutku manusiawi banget. Kalau aku ada dalam posisi Seira kemungkinan aku pun bakal mengira tengah bermimpi buruk atau tengah mengalami gangguan jiwa. Oke, ini pemikiran konyol tetapi memang begitu yang sempat Seira pikirkan.

Selain Seira, ada juga sosok Giddy (sahabat Seira sejak kecil). Nah, sosok Giddy adalah orang pertama yang menyadari perubahan yang terjadi pada Seira. Sebenarnya aku rada baper sama sikap Giddy sama Seira. Di sini Giddy layaknya seorang suami yang siaga 24 jam. Oke, mungkin aku yang baperan.

Dan bersiaplah karena kamu bakalan diajak berkenalan dengan para tokoh Minahasa mulai dari Siow Kukur, dua saudara kembar si penjaga Seira Manasye dan Mikaela, dan juga para tokoh jahat seperti Toar, Burik Muda, Tonaas, Olunglasut, Kopero dan masih banyak lagi deh. Untungnya ada kesayanganku si Siow Kukur yang siap siaga menjaga Seira.

Selain sama Giddy aku juga baper sama tokoh Siow Kukur ini. Haha, apalagi setelah mendapati beberapa fakta tentang kehidupan cinta Siow Kukur pada masa lampau. Kya, dudu, pokoknya perjuangan Siow Kukur melindungi Seira (reinkarnasi Lumimuut) sungguh bikin aku iri. Apalagi Seira dianggap yang paling spesial.

“Tapi kenapa kau tidak merespons saat aku memanggilmu berulang kali di kampus?”

Saat kamu membaca buku ini, kamu juga bakalan diajak berpetualang dan mengenali sejarah Minahasa dengan asik. Saking asik dan sayang buat dilewatkan, aku menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Sensasinya nano-nano. Kadang tegang, haru, dan bikin ngakak.

Jadi di sini, sosok Seira adalah reinkarnasi dari sosok Lumimuut yang menguasai 40 Opo. Opo yang dimaksud buka HP OPPO, ya. Bukan juga Oppa-Oppa imut Korea. Haha.

Jadi, Opo di sini adalah para dewa-dewa kecil/ leluh. Kehadiran para Opo dalam buku ini sangat menghibur selain tugas mereka menjadi sumber kekuatan Seira. Entah bagaimana ceritanya makhluk mitologi bisa mengikuti perkembangan zaman. Bahkan para Opo pun terbilang cukup gaul, lucu, (ya, iyalah, kan ada 40 Opo, bayangin deh betapa rempongnya). Selain suka menggoda Seira, sampai ada lakon mereka ngefollow akun twitter Ivan Lanin. Sumpah! Aku ngakak-ngakak bayangin mereka yang gokil abis.

Pokoknya apa ya, nggak kebayang deh. Hidup di tahun 2018 dengan segala kemajuan teknologi modern eh tiba-tiba malah berurusan dengan kehidupan lampau yang pelik. Mulai dari dendam, rahasia, serta kejutan-kejutan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Nyawa pun menjadi taruhannya.

Aku yang awalnya tidak tahu apa-apa soal Minahasa, setelah membaca buku ini pengetahuanku bertambah. Banyak sekali ulasan menarik tentang sejarah Minahasa. Apalagi bicara soal keturunan Lumimuut yang ternyata mempunyai tiga keturunan: Makarua Siow, Makatelu Pitu, dan Pasiowan Telu.

Makin penasaran nggak sama isi dalam buku ini? Aku sih yes, soalnya jarang banget ada buku yang mengangkat kisah budaya lokal (aku baru baca pertama kali buku yang seperti ini). Seharusnya buku ini mendapatkan apresiasi lebih di kalangan para pencinta buku.

Aku tidak tahu banyak soal mitologi Minahasa. Tapi aku tahu kau Karena, pendeta perempuan yang menciptakan Toar dan Lumimuut.”

Aku tuh suka bingung kalau bikin ulasan buku yang bagus. Iya, bagiku buku ini bagus banget. Bagaimana nggak, gaya bahasanya mudah kupahami, aku pun nggak kesandung tipo atau apalah selama baca buku ini. Entahlah, mungkin karena aku kelewat menikmati buku ini. Tahu-tahu habis. Macam kena sihir. Pokoknya ibarat jalan tol yang nggak ada polisi tidurnya.

Meskipun konflik-konflik dalam buku ini terbilang begitu sederhana cara penyelesaiannya, bahkan setiap bab yang ada cukup pendek. Jadi menimbulkan kesan seolah-olah alur ceritanya terlalu cepat. Sebenarnya iya, padahal aku masih menyimpan banyak pertanyaan atau mungkin di balik semua Itu Kak Anastasye mempunyai alasan tersendiri. Kalau bakal memang ada seri berikutnya, aku tak sabar menanti.

Pokoknya aku suka buku ini. Banget. Buat apa juga konflik berat-berat tetapi kita sebagai pembaca nggak menikmatinya? Yang penting baca buku itu dapat manfaat, bukan hanya sekadar hiburan semata dan cuma buang-buang waktu. Oke, aku mulai meracau. Abaikan.

Gaya bahasa oke. Diksi oke. Alur dan konflik oke. Kover bukunya segar. Pengetahuan tentang Minahasa tersampaikan tanpa kesan menggurui. Ah, suka pokoknya.

Sampai sekarang pun sosok Seira dan kawan-kawan masih terbayang-bayang dalam kepalaku. Ah, sepertinya aku benar-benar jatuh hati sama buku ini.

Sebenarnya banyak sekali yang pengin kutulis tentang buku ini tetapi takutnya malah jadi spoiler akut. Haha. Pokoknya kalau mau tahu lebih lanjut dan kenalan sama Seira dan kawan-kawan, kamu mesti baca sendiri buku ini deh.

Oh, iya, satu lagi, gara-gara baca buku ini aku jadi tertarik untuk mempelajari sejarah dan budaya yang ada di Indonesia. Semoga suatu saat bisa menulis cerita tentang budaya lokal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s