Resensi Buku Creepy Case Club: Kasus Nyanyian Berhantu Karya Rizal Iwan

Judul: Creepy Case Club: Kasus Nyanyian Berhantu
Penulis: Rizal Iwan
Penerbit: Penerbit Kiddo
ISBN: 978-602-481-006-1
Jumlah halaman: 169 halaman
Periode baca: 25 November 2018
Rating buku: 4🌟

Nyanyikan ketika sedang sendiri, dan dia akan datang.

Namira adalah gadis kecil yang tidak biasa. Baginya, hantu bukan untuk ditakuti dan ia justru bersimpati dengan tokoh-tokoh jahat dalam dongeng.

Setelah tak sengaja menyanyikan sebuah lagu lama yang katanya dapat memanggil hantu, arwah seorang anak perempuan meneror Namira. Dibantu Vedi dan Jani, dua teman barunya, ia berusaha mengungkap misteri di balik lagu itu.

Sebuah teka-teki yang membuat mereka mempertanyakan kembali arti baik dan jahat.

Nah, setelah membaca blurb di atas, apa yang ada dalam pikiranmu? Apakah sama denganku yang bertanya-tanya: lagu apa sih yang dinyanyikan Namira sampai-sampai ada arwah seorang anak perempuan yang meneror dirinya? Ih, seram.

Berhubung aku ada beberapa pengalaman cukup buruk yang berkaitkan dengan ‘hantu’. Butuh cukup lama bagiku mengumpulkan keberanian untuk membaca novel ini.

Pertualangan Namira dimulai saat mereka sekeluarga harus pindah dari Dumai ke Jakarta sebab Bapak dipindah tugaskan. Awalnya Namira sangat kesal karena harus kehilangan sahabatnya di Dumai.

Aku suka dengan karakter Namira dalam novel ini karena ia benar-benar unik, pintar, juga menggemaskan. Bagaimana nggak, jika kebanyakan anak di luar sana mengidolakan sosok Princess dan pahlawan super. Sosok malah Namira sebaliknya, ia sangat menyukai tokoh-tokoh jahat dalam cerita. Gara-gara itu pula, hari pertama Namira masuk sekolah menjadi pusat perhatian si Jani, anak cewek penggemar berat tokoh Princess. Sejak awal pertemuan mereka saling tak suka. Layaknya tokoh jahat, teman-teman Namira menyebutnya “Dukun Keriting” oh, ayolah, khas bangetlah sama anak-anak di dunia nyata yang suka mengolok-olok.

Berhubung Namira sangat suka tokoh jahat itu karena ia mempunyai alasan yang kuat. Menurutnya, di dunia ini sebenarnya nggak ada orang jahat. Kalau pun ada, mereka pasti mempunyai alasan untuk itu. Selain itu, menurut Namira tokoh-tokoh jahat dalam cerita juga sangat keren, bisa sihir.

Aku juga suka sama kedua orang tua Namira. Soalnya sejak kecil Namira sudah diajak berpikir logis untuk segala hal. Bukan berarti, kedua orang tuanya tak percaya hal-hal gaib, hanya saja memang belum ada hasil penelitian yang membenarkannya. Begitu juga dengan tokoh Vedi teman baru Namira si kutu buku dari planet kuno yang tidak percaya hantu, menurutnya hantu itu adalah buah dari pikiran kita.

Meskipun begitu, diam-diam Namira tetap berkeinginan bisa melihat hantu. Sampai suatu hari, apa yang ia inginkan menjadi kenyataan. Semuanya bermula saat ia ditantang teman sekelasnya untuk menyanyikan lagu Soleram sendirian di malam hari. Tidak terjadi apa-apa awalnya, namun siapa yang menduga, kehidupan Namira benar-benar berubah. Dan, ia benar-benar melihat hantu! Bukannya merasa senang, Namira merasa dirugikan oleh kehadiran hantu itu. Ia juga merasa was-was soalnya sepanjang hari ia merasa ada yang mengawasi dirinya. Oke, aku nggak bisa bayangin kalau aku ada di posisi Namira! Tapi ini anak kecil loh, anak kecil yang digangguin sama hantu! Luar biasa! Aku geregetan!

Aku suka novel ini. Suka sama semua karakternya. Karakter dalam novel ini benar-benar terasa nyata. Namira, Vedi dan Jani. Siapa juga yang bisa menduga, yang awalnya saling tak suka malah akhirnya bersahabat? Ya, itu, Namira dan Jani. Dari sini kita bisa belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk kita saling membenci.

Eh, terus bagaimana dong kelanjutan Namira yang diteror sama hantu anak perempuan itu? Cie, penasaran, ya? Jadi di sini, Namira, Vedi dan Jani menjadi para dektektif cilik dadakan. Pertualangan mereka seru kali buat diikuti, serius! Gaya bahasanya pun nggak bikin kepala muter-muter. Alur dan konflik ceritanya juga menurutku oke. Apalagi ya, hmm, banyak juga fakta-fakta menarik yang bisa menambah wawasan kita setelah membaca novel ini, misalnya di saat Namira mencari tahu tentang lagu Soleram di internet, dia malah dikagetkan dengan artikel-artikel yang mengungkapkan kisah-kisah kelam di balik sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak.

Oh, iya, bicara soal kekurangan, aku sempat mempunyai beberapa catatan kecil selama membaca novel ini. Meskipun demikian, aku benar-benar menikmati novel ini. Nah, ternyata-ternyata novel ini tidak seseram yang kubayangkan sampai ada adegan berdarah-darah begitu, oh, maafkan aku yang terlalu berpikir berlebihan. Sepertinya mulai sekarang aku harus menghilangkan pikiran-pikiran negatif tentang ‘hantu’ supaya bisa tidur nyenyak. Hahaha.

Setelah membaca novel ini, aku jadi benar-benar paham maksud dan pesan apa yang ingin Kak Rizal sampaikan, sewaktu bincang buku ini di grup OWOB.

Novel ini menurutku bukan hanya bisa dinikmati oleh anak-anak melainkan juga para orang tua. Soalnya tidak ada salahnya sekali-kali kita masuk dalam pikiran anak kecil supaya bisa memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Intinya aku Suka dan menikmati keseruan pertualangan Namira. Jadi penasaran seri keduanya, adakah yang mau traktir? Ehm.

Iklan

2 respons untuk β€˜Resensi Buku Creepy Case Club: Kasus Nyanyian Berhantu Karya Rizal Iwan’

  1. eL-ghiyats 8 Januari 2019 / 3:38 pm

    Banyak amat stok novelnya. Kapan2 boleh pinjem yak. πŸ˜†

    Suka

    • Dea Ayusafi 8 Januari 2019 / 7:04 pm

      Hahaha, nggak kok. Alhamdulillah, kebetulan dapat rezeki dikasih sama penulisnya langsung. πŸ˜…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s